KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Grujugan menyimpan kisah panjang yang memadukan sejarah, legenda, hingga nilai-nilai kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Terletak di wilayah Kecamatan Petanahan, desa ini tidak hanya dikenal sebagai kawasan agraris, tetapi juga memiliki cerita unik tentang asal-usul namanya yang sarat makna.
Berdasarkan catatan dalam Babad Tanah Jawi karya Y.B. Woterbeek (1912), wilayah Jawa pada masa lampau mengalami pembukaan hutan besar-besaran atau babad alas untuk dijadikan lahan pertanian dan permukiman. Aktivitas ini banyak terjadi di dataran rendah, tepi sungai, hingga lembah, termasuk di wilayah selatan Pulau Jawa.
Seiring waktu, menurut buku History of Java Spring Up karya Y.B. Guillot (1920), masyarakat agraris terbagi menjadi beberapa kelompok, mulai dari petani menetap hingga pengembara yang terus membuka lahan baru. Fenomena ini memicu persaingan perebutan wilayah yang kerap berujung konflik.
Jejak Perang dan Tokoh Legendaris
Memasuki abad ke-19, tepatnya sekitar tahun 1825–1830, wilayah ini turut menjadi bagian dari dampak Perang Diponegoro. Para pengikut Pangeran Diponegoro seperti Kyai Mojo, Ki Tunggul Wulung, hingga Nyai Dewi Renges diyakini pernah singgah dan berjuang di kawasan ini.
Salah satu peninggalan yang masih diyakini masyarakat adalah cungkup keramat yang dipercaya sebagai napak tilas Nyai Dewi Renges. Selain itu, terdapat pula kisah Kyai Mojo yang konon menemukan sumber air dengan menancapkan tongkatnya ke tanah. Sumber air tersebut kini dikenal sebagai Sumur Maja, yang hingga kini tidak pernah kering meski musim kemarau panjang.
Asal Usul Nama Grujugan
Legenda menyebutkan bahwa Desa Grujugan dulunya merupakan kawasan hutan yang dibuka secara besar-besaran. Perebutan lahan antar kelompok memicu pertumpahan darah yang hebat, hingga disebut sebagai “grojogan darah”.
Di tengah konflik tersebut, hujan deras turun disertai suara gemuruh “grujug-grujug”. Dari peristiwa itulah, para pendahulu menamai wilayah ini sebagai Desa Grujugan, yang merepresentasikan suara derasnya hujan sekaligus simbol berakhirnya konflik.
Pembagian Wilayah dan Kehidupan Awal
Seiring berkembangnya permukiman, wilayah desa terbagi menjadi beberapa dukuh seperti Kemranggon, Karang Kemiri, dan Enthak. Nama-nama ini diambil dari kondisi geografis dan karakter wilayah saat itu, seperti banyaknya pohon kemiri atau tanah tandus (cengkar).
Lahan pertanian pun diberi nama sesuai ciri khas masing-masing wilayah, seperti Timahan, Jomblang, hingga Gili Turi yang dikenal karena banyaknya pohon turi di sepanjang jalan.
Perkembangan Pendidikan dan Keagamaan
Pada tahun 1911, pemerintah kolonial Belanda mendirikan Sekolah Rakyat (SR) di desa ini. Bangunan tersebut masih berdiri hingga kini dan menjadi bagian dari aset Gereja Kristen Jawa Grujugan.
Perkembangan keagamaan juga terlihat dari berdirinya GKJ Grujugan yang diresmikan pada 18 Juli 1928 oleh pendeta Belanda, serta pembangunan Masjid Al Ijtihad pada tahun 1956 yang menjadi pusat kegiatan umat Islam setempat.
Dari Masa Lalu ke Masa Kini
Desa Grujugan juga memiliki sejarah sosial yang unik, seperti keberadaan kuburan massal “Bulus Pepe” yang menjadi saksi konflik masa lampau. Pada tahun 1950, lokasi tersebut diubah menjadi lapangan desa melalui gotong royong masyarakat.
Hingga kini, Grujugan dikenal sebagai desa yang menjunjung tinggi toleransi dan kebersamaan di tengah keberagaman. Nilai-nilai tersebut menjadi warisan penting dari perjalanan panjang sejarah dan legenda yang membentuk identitas desa.
Sumber: (https://grujugan.kec-petanahan.kebumenkab.go.id/index.php/web/artikel/4/88)
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


















