KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Ampelsari di Kecamatan Petanahan, Kabupaten Kebumen, memiliki sejarah panjang yang sarat nilai budaya, perjuangan, dan perkembangan pemerintahan desa dari masa ke masa. Berawal dari legenda dua wilayah kecil, Ampel dan Pelautan, kini Ampelsari tumbuh menjadi desa yang maju dengan berbagai capaian pembangunan.
Awal Mula: Dari Ampel dan Pelautan
Sebelum tahun 1922, wilayah Ampelsari masih terpisah menjadi dua desa, yakni Desa Ampel yang dipimpin Mangun Wijaya dan Desa Pelautan yang dipimpin Tulus atau Ali Munadi. Karena luas wilayah yang terbatas, kedua desa kemudian digabungkan pada tahun 1922 dan resmi diberi nama Desa Ampelsari. Penggabungan ini sekaligus mengakhiri masa kepemimpinan kedua lurah tersebut.
Lahirnya Pemimpin Pertama
Pada tahun yang sama, Ampelsari menggelar pemilihan kepala desa pertama dengan metode unik yang dikenal sebagai “dodokan”, yakni warga duduk di belakang calon pilihannya. Dari dua kandidat, Imam Soeparta dan Tulus (Ali Munadi), Imam Soeparta terpilih sebagai lurah pertama karena memperoleh dukungan terbanyak.
Di masa kepemimpinannya (1922–1946), Imam Soeparta mendirikan Sekolah Rakyat (SR) pada tahun 1925, yang kini menjadi cikal bakal pendidikan di desa tersebut. Ia juga mengangkat Atmowikarto sebagai carik (juru tulis) pertama.
Pembangunan Infrastruktur dan Pendidikan
Kepemimpinan berikutnya dipegang oleh Mokhayat Dulah Kastari (1946–1986) yang terpilih melalui sistem “gitingan” menggunakan lidi. Ia berjasa besar dalam pembangunan infrastruktur, termasuk pelebaran jalan utama desa dan penyediaan lahan untuk sekolah dasar melalui program Inpres.
Pada masa ini pula, kantor desa mulai dibangun pada tahun 1979 dan menjadi pusat pemerintahan hingga sekarang.
Era Modernisasi Desa
Periode Untung Subagyo (1986–1994) menandai era modernisasi dengan sistem pemilihan yang lebih demokratis. Ia membentuk kelembagaan desa seperti RT, RW, LKMD, dan Karang Taruna yang masih berjalan hingga kini.
Sementara itu, Drs. Ahmad Marsudi (1994–1999) dikenal sebagai pemimpin yang memperkuat nilai keagamaan dengan mendirikan Madrasah Diniyah Tarbiyatul Athfal serta aktif mengembangkan kegiatan keagamaan masyarakat.
Pembangunan Berkelanjutan
Kepemimpinan berikutnya dilanjutkan oleh Sobirin (2001–2006) dan Saefudin (2007–2013), yang fokus pada pembangunan sarana ibadah, infrastruktur jalan, serta penguatan organisasi masyarakat.
Kemajuan signifikan terjadi pada masa Mukhtar (2013–2019), seiring hadirnya Dana Desa dari pemerintah pusat. Desa Ampelsari berhasil meraih penghargaan tingkat nasional dan daerah, termasuk rekor pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) serta prestasi gotong royong tingkat Provinsi Jawa Tengah.
Kepemimpinan Perempuan dan Inovasi Desa
Sejak 2019, Desa Ampelsari dipimpin oleh Umi Maskanah, S.Pd.AUD, kepala desa perempuan pertama. Di bawah kepemimpinannya, berbagai inovasi dilakukan, seperti pembentukan kader perempuan “Wani Lemper”, pembangunan kolam renang anak Tirta Sari, serta percepatan pembangunan infrastruktur desa.
Hingga kini, hampir 70 persen jalan desa telah ditingkatkan menjadi rabat beton, mendukung mobilitas dan pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Dengan perubahan regulasi melalui Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2024, masa jabatan kepala desa kini menjadi 8 tahun, memperpanjang masa kepemimpinan dalam upaya pembangunan desa yang berkelanjutan.
Sumber: Website resmi desa ampelsari
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


















