, , ,

Warga Karanggayam Penerima BPNT Keluhkan Selisih Harga di E-Warong

oleh -405 views
Foto : Seorang warga Karanggayam menunjukan struk BPNT

KARANGGAYAM, Kebumen24.com- Distribusi bantuan sosial berupa Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) menuai polemik di tengah warga Karanggayam. Sejumlah warga yang merupakan penerima BPNT mendapati selisih harga yang terkesan lebih mahal antara warung elektronik atau E-Warong selaku agen distribusi dengan warung pada umumnya.

 

Seorang penerima BPNT yang tidak mau disebut nama menyayangkan perihal tersebut, ia menganggap tidak dapat merasakan manfaat lebih melihat harga yang dibanderol dari jenis barang BPNT justru di atas harga warung yang berada di sekelilingnya.

 

“Pas pembagian tanggal 17 kemarin harga telur di warung sekitar Rp 20 ribu, ini di struk Rp 22 ribu. Kalau beras dengan kualitas sama paling mahal Rp 8.800, sedangkan ini sampai Rp 9.500,” ungkap dia, saat ditemui, Kamis, 21 Mei 2020.

 

Ia tidak meminta lebih, hanya saja acuan harga yang ditetapkan E-Warong tidak begitu selisih dengan harga umum atau bahkan ia meminta sama dengan harga di warung lain. Sebab menurutnya, dari selisih harga tersebut sebenarnya dapat dibelanjakan dengan barang lain.

 

“Minimal harga sama dengan warung-warung kecil. Harga segitu warung kecil juga sudah dapat untung apalagi ini lebih mahal. Kocek harga kan sebenarnya bisa untuk yang lain walaupun hanya satu telur,” ucapnya.

 

Hal lain yang menjadi perhatian warga setempat, yakni jenis bantuan yang diberikan untuk memperhatikan beberapa unsur yang dibutuhkan oleh tubuh seperti vitamin, karbohidrat dan nutrisi. Sebab selama ini distribusi dinilai tidak variatif sehingga merasa bosan untuk konsumsi bantuan tersebut.

 

“Kalau bisa ya selang-seling sekarang misal tempe besok tahu besoknya lagi daging ditambah buah, jangan tahu terus,” jelasnya.

 

Mengacu struk penerimaani BPNT tahap 5 tahun 2020 di salah satu E-Warong Karanggayam. Terdapat lima jenis barang yang dibagikan, berupa 1 Kg telur dipatok dengan harga Rp 22 ribu, 13,2 Kg beras Rp 9.500 per Kg, 0,58 Kg bawang putih Rp 25.000 per Kg, 20 pcs tahu Rp 500 per pcs, serta 4 pcs kacang tanah Rp 28 ribu. Program bantuan dari pemerintah pusat melalui Kementerian Sosial (Kemensos) ini jika dinominalkan sebesar Rp 200 ribu.

 

Temuan Kebumen24 di Komplek Pasar Karanggayam, harga beras medium per Kg dijual dengan harga Rp 8.500. Sedangkan harga grosir telur dibanderol Rp 18.700 per Kg. Adapun untuk harga bawang putih berkisar Rp 18 ribu per Kg dan kacang tanah Rp 23 ribu per Kg.

 

“Beras harga dasar HET nya sekitar segitu maksimal saya akan jual Rp 8.500, tapi kalau untuk dijual lagi Rp 8.100-8.200. Saya dapat harga telor Rp 18.200 saya jual grosir per krat isi 10 kg Rp 18.700 tetapi masih bisa turun,”papar salah satu pemilik Toko Sembako.

 

Berdasar penelususran pada Sistem Informasi Kebutuhan Pokok (Simbok) milik Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kebumen. Aplikasi berbasis android tentang penyampaian informasi harga kebutuhan pokok masyarakat (Kepokmas) menunjukan pada 16 Mei 2020, beras IR64 (KW medium) seharga Rp 8.000 per Kg, untuk hari berikutnya tidak ada paparan harga. Sedangkan 18 Mei 2020 beras serupa masih dengan harga sama. Sedangkan harga telur rentan waktu tiga hari tersebut berkisar Rp 20.500 per Kg.

 

Sementara pemilik E-Warong di Karanggayam menjelaskan, mekanisme sebagai dasar penentuan harga BPNT telah melalui beberapa koordinasi yang dilakukan bersama Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) beserta unsur Forkopimcam.

 

“Dari E-Warong ada undangan di Kecamatan untuk rapat koordinasi dan hasilnya sesuai rapat. Setiap rakor kan ada standar harga Kabupaten,” terang dia.

 

Menanggapi hal itu, salah satu Anggota DPRD Kebumen Agus Supriyanto dari PKS menegaskan, program yang digagas Kemensos ini hendaknya berpihak pada masyarakat dengan mendengar keluhan dan kebutuhan yang diperlukan.

 

“Dari pihak terkait sendiri cobalah tanya ke warga apa saja yang menjadi persoalan dan yang dibutuhkan,” kata Agus.

 

Legislator yang berangkat dari Dapil 5 yakni Karanggayam, Karanganyar dan Gombong meminta ada bentuk kerjasama yang baik dengan pelaku usaha maupun usaha milik desa serta memprioritaskan prodak lokal agar geliat ekonomi dapat juga dirasakan oleh masyarakat.

 

“Setiap dukuh tentunya ada warung, Pemerintah atau Dinas Sosial bisa memberikan rekomendasi kepada warung kecil untuk diberikan kesempatan memberikan pelayanan supaya potensi yang ada dapat digali,” pungkasnya. (K24/Hfd)

Tinggalkan Balasan