GOMBONG, Kebumen24.com – Energi terbarukan yang ramah lingkungan menjadi alternatif untuk kehidupan masa depan. ECO green, menjadi target yang terus diupayakan dengan meningkatkan kreativitas dan inovasi. Tidak terkecuali dengan memanfaatkan tenaga surya atau sinar matahari sebagai energi alternatif.

 

Seperti yang dilakukan para siswa SMA Muhammadiyah Gombong yang menciptakan prototipe mobil bertenaga surya. Inovasi dalam sektor transportasi ini berawal lantaran melimpahnya sumber tenaga matahari. Juga antisipasi pasokan minyak bumi yang kian menipis serta mengurangi polusi gas bahan bakar minyak selama ini.

 

Mobil yang kini masih dalam penyelesaian untuk bodynya, merupakan karya enam siswa kelas X SMA Muhammadiyah Gombong. Siswa sekolah yang terletak di Jalan Kenanga Kelurahan Gombong ini masuk kelas internasional. Pembuatannya berawal dari tantangan guru pembimbing untuk membuat mobil tenaga surya. Alhasil, Muhammad Tsaqif Taqiyuddin dan kawan-kawan merealisasikan tantangan tersebut.

 

Terdapat 5 buah panel solar cell yang diletakkan di belakang body mobil untuk menampung energi panas. Karya ciamik ini diberi nama Spectre yang merupakan kepanjangan dari Solar Powered Electric Vehicle. Proses pengerjaan memakan waktu sekitar 2 bulan lamanya.

Foto : Mobil tenaga surya buatan siswa SMA Muhammadiyah Gombong

Ketua Tim Pembuatan Mobil Tenaga Surya, Tsaqif Taqiyuddin mengatakan cara kerja Spectre menggunakan energi panas matahari yang diserap solar cell atau panel. Kemudian energi tersebut dialirkan menuju solar charge controller (SCC).

 

“Kemudian energi panas dikonversi menjadi energi listrik sebelum disimpan dalam baterai,” katanya, Selasa 23 Maret 2021.

 

Dijelaskannya, sebagian besar daya yang dihasilkan untuk menggerakkan mesin dinamo DC. Sebagian lagi diubah menjadi arus AC untuk menyalakan komponen elektronik seperti laptop dan indikator.

 

Mobil ini sendiri menggunakan dinamo Brushless DV dengan kekuatan 800 Watt. Jumlah keseluruhan baterai sebanyak 5 unit, dimana 4 diantaranya menjadi penggerak mesin dan lainnya untuk menyalakan komponen elektronik. Untuk tiap baterai, dalam kondisi terik matahari terisi penuh sekitar 5 hingga 6 jam.

 

Sementara guru pembimbing, Slamet menambahkan mobil masih dalam tahap pengembangan, namun mobil ini sudah dapat digunakan untuk tes drive dengan jarak maksimal 20 kilometer. Ia mengakui banyak kendala saat proses pembuatan mengingat di sekolah tersebut tidak menggeluti otomotif. Namun berkat semangat dan arahan guru, mobil pun dapat dibuat oleh para siswa.

 

“Mobil ini bukan hanya untuk moda transportasi tetapi sekaligus sebagai ajang kampanye ramah lingkungan,” tandasnya. (K24/THR).

By Redaksi

Redaksi Kebumen24