Sejarah Desa Pujotirto Karangsambung, Dulu Terjadi Kemarau Panjang

oleh -

KARANGSAMBUNG, Kebumen24.com – Desa Pujotirto Kecamatan Karangsambung merupakan salah satu desa yang berada di wilayah Kebumen bagian Utara. Desa ini, dulunnya dikenal dengan nama Kalipuru.

Menurut cerita yang diyakini turun temurun warga setempat, Desa Kalipuru awalnya merupakan dua desa, yaitu Adilewih dan Kaliurang. Adilewih dulu dipimpin oleh Mbah Metinggi, sedangkan Kaliurang dipimpin oleh Suragati.

Kepala Desa Pujotirto Giriyanto mengatakan, Desa ini terbagi menjadi 5 Dusun. Diantaranya Dusun Kalipuru Wetan, Kalipuru Kulon, Kaliurang, Eragemiwang dan Pencu. Jaman dulu, Dusun tersebut merupakan Desa yang memiliki Kepala Desa sendiri sendiri.

Konon cerita, jaman dulu banyak warga Desa Kaliurang yang pindah ke Adilewih karna Kaliurang dianggap tidak aman dari serangan binatang buas. Alasan takut, akhirnya hanya ada beberapa kepala keluarga saja yang tinggal disana.

Kemudian Kepala desa Kaliurang pergi menemui Kepala Desa Adilewih yang sekarang dikenal Kalipuru untuk menyerahkan warganya untuk dipimpin oleh Mbah Metinggi. Namun karna usianya lebih tua dari Mbah Metinggi, ia pun meminta agar supaya Mbah Suragati yang memimpin Desa tersebut, dengan catatan setelah selesai nanti harus dikembalikan lagi ke Mbah Metinggi dan anak keturunannya.

‘’ Setelah Mbah Suragati meninggal kemudian dilanjutkan lagi oleh Mbah Metinggi dan turun temurun sampai sekarang,’’terang Kades saat ditemui di Kantornya, Sabtu 12 Juni 2021 kemarin.

Adapun nama Kalipuru berawal saat ada ahli Geologi melakukan kunjungan tugas ke desa setempat. Dari cerita yang diyakini, saat itu kunjungan dipimpin oleh Bupati Arumbinang. Disini ada tanah yang kelihatan aneh dan unik kemudian dibawa ke lab penelitian. Dari hasil penelitian, tanah tersebut diberi nama tanah puru, namun belum diketehuai secara pasti asal mula tana puru ditemukan.

‘’ Dari cerita nenek moyang kami, tanah puru sendiri pertama ditemukan di sungai (kali) lalu digbunglah namanya menjadi Kalipuru,’’tutur Kepala Desa.

Setelah Kalipuru dan Kaliurang menjadi satu, lanjut Kades, Dukuh Eragemiwang dan Pencu pun ikut bersatu karena warganya tinggal sedikit. Dari situ, bergabunglaj menjadi Desa Pujotirto.

Kades menambahkan, nama Pujotirto sendiri berasal dari peristiwa kemarau panjang. Kemudian warga berkumpul dan berdoa bersama  meminta air di Suatu Beji (mata air) yang berada di gunung Indrakila. Nama desa Pujotirto sendiri diambil dari kisah tersebut dengan kata Pujo dan Tirto. Pujo artinya Nyuwun (meminta ) sedangkan Tirto artinya air (meminta air kepada sang pencipta).

“Konon cerita Apabila dulu kemarau panjang lalu warga melakukan suatu ritual khusus dengan membersihkan sumber mata air tersebut dan berdoa bersama yang intinya meminta air, karna itu hanya sarana saja. Setelah dibersihkan kemudian turunlah hujan.” Kata Kades.

Kala itu menurut cerita, Bupati Kebumen yang bernama Sasrobusono juga pernah membuktikan sendiri datang ke situ. Dan ternyata ada suatu tempat untuk sarana meminta air apabila musim kemarau panjang dengan suatu ritual.

Lebih jaub Kades menuturkan, Desa Pujotirto juga memiliki tradisi yang hingga kini masih dilestarikan. Yakni Tayuban. Tayuban adalah tradisi hiburan pentas seni berupa Lengger. Tradisi ini rutin digelar setiap satu tahun sekali atau setelah masa panen selesai sebagai bentuk rasa syukur.(k24/ilham).