Menguak Mitos Larangan Jualan Nasi di Desa Penimbun Karanggayam

oleh -

KARANGGAYAM, Kebumen24.com  – Sebuah kepercayaan yang terbilang unik di Desa Penimbun, Kecamatan Karanggayam, Kabupaten Kebumen. Dimana masyarakat setempat pantang untuk berjualan nasi, dan jika hal itu dilanggar, maka akan datang musibah terjadi di desa tersebut.

Menariknya lagi, tak ada aturan tertulis di desa yang terletak sekitar 20 km ke arah barat laut dari Kota Kebumen tersebut. Namun semua warga tak ada yang berani melanggar pantangan yang sudah ada sejak zaman nenek moyang itu.

Desa yang hanya memiliki dua dusun yakni Krajan dan Prapatan tersebut, sepintas tak ada yang berbeda dengan suasana pedesaan lainnya. Namun, meski banyak warga yang membuka warung makan, tak satupun dari mereka yang berani menjual nasi.

Menurut keterangan Sekretaris Desa setempat, Simin Prayogi (36) mengatakan, konon ceritanya dulu ada pengelana atau musafir lewat di Desa Penimbun terus minta nasi kepada warga karena kelaparan. Namun karna tidak ada yang mau memberi, Musafir itu pun kemudian mengeluarkan kata-kata semacam kutukan.

‘’ Karena saat itu warga juga masih dalam keadaan susahan maka tidak ada yang memberi. Kemudian Musafir itu mengeluarkan kata-kata semacam kutukan jika warga Penimbun dan anak cucunya kelak ada yang jualan nasi maka akan ada musibah di Desa sini,”ucap Simin saat ditemui di kediamannya, Kamis 3 Juni 2021.

Simin lalu mengenang ketika ada warga yang melanggar pantangan berjualan nasi ini. Entah kebetulan atau tidak, warga yang melanggar pantangan itu meninggal.

“Musibahnya ya ada kejadian yang tidak wajar, intinya ada kematian. Mungkin memang takdirnya, tapi kebetulan pas ada kejadian pas dulu pernah ada yang melanggar. Makanya sampai sekarang warga sama sekali tidak berani melanggar lagi,” imbuhnya.

Meski ada pantangan untuk berjualan nasi, namun warga masih diperbolehkan menjual ketupat atau lontong meski bahan dasarnya sama. Hal itu karena makanan itu memiliki julukan yang berbeda.

“Kalau lontong atau kupat boleh karena namanya bukan nasi, yang dilarang itu segala nasi misal nasi rames, nasi goreng, nasi uduk, nasi singkong juga nggak boleh,” jelasnya.

Hal senada disampaikan salah satu tokoh masyarakat Desa setempat Sarno (51). Sejak tahun 1997, Ia sudah membuka warung kelontong lengkap dengan segala keperluan warga termasuk sayur mayur, namun warungnya tidak menjual nasi.

“Walaupun aturannya tidak tertulis, namun kami juga tidak berani melanggar. Takut nanti ada apa-apa, mending jualan yang lain aja,” tutur Sarno.

Sarno menjelaskan, Desa Penimbun sendiri berasal dari kata Tenimbun yang artinya timbunan atau tumpukan batu. Namun karena susah diucapkan, kata Tenimbun akhirnya berubah jadi Penimbun. Timbunan atau tumpukan bebatuan yang merupakan cikal bakal berdirinya desa itu pun hingga kini masih ada dan dikeramatkan oleh warga setempat.

Konon, timbunan batu itu dikumpulkan dalam waktu semalam oleh seorang wali penyebar agama Islam yang saat itu akan membuat masjid sebagai tanda berdirinya desa tersebut. Namun karena saat itu warga masih banyak yang berjudi dan tidak bisa diingatkan, maka masjid itu urung dibuat.

“Petilasan ini namanya Panembahan Kuwu Batur yang merupakan cikal bakal desa ini. Dulu mau dibikin masjid di sini oleh salah satu wali tapi belum jadi terus wali itu ke Demak bikin masjid di sana,” tutupnya(K24/THR)