Legenda Desa Jatimulyo Alian, Apa Hubunganya dengan Makam Tan Peng Nio?

oleh -
Makam Tan Peng Nio

KEBUMEN, Kebumen24.com  – Desa Jatimulyo di wilayah Kecataman Alian Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, merupakan desa yang memiliki luas wilayah sekitar 110 Hektar. Konon cerita terbentuknya desa ini berawal dari pertarungan orang sakti hingga mengakibatkan banyaknya pohon jati yang tumbang dan melintang di daerah tersebut.

Kepala Desa Jatimulyo Wahidun Kusniyanto mengungkapkan, Jatimulyo awalnya dua wilayah, yakni karangduwur dan jatimalang. Menurut cerita pada masa penjajahan Belanda Kadipaten Kebumen di pimpin oleh raja Arumbinang III yang bergelar Kolopaking III. Pada saat itu Kolopaking III kagum terhadap salah satu perajuritnya yang berasal dari keturunan Tionghoa bernama Than Pheng Phio atau dikenal Tan Peng Nio.

‘’Tan Peng Nio merupakan seorang gadis yang ikut berperang melawan VOC, dalam Perang Geger Pecinan pada sekitar tahun 1740. Hingga akhirnya Tan Peng Nio memilih melarikan diri ke Kebumen dari Jakarta kala itu,’’ucap Wahidun, saat ditemui di Kantornya, Jumat 4 Juni 2021.

Kemudian pada suatu hari Kolopaking III ingin mencoba kekuatanya dengan adu kesaktian hingga mengakibatkan banyaknya pohon pohon jati tumbang dan melintang dijalan P. Bumidirjo. Dari adu kesaktian tersebut, Than Pheng Phio akhirnya kalah dan terurailah rambut panjangnya.

Saat itu juga, Kolopaking III terkejut melihat Than Pheng Phio ternyata seorang perempuan yang berwajah cantik. Kolopaking III pun jatuh cinta dan kemudian menyunting Than Pheng Phio menjadi selir istri ke 3.

Selanjutnya para warga yang hendak pergi ke Kebumen dari arah Timur sering berhenti karna terhalang pohon pohon jati tumbang yang melintang. Hingga akhirnya masyarakat menyebut dengan nama Jatimalang artinya pohon jati yang melintang.

’’ Pohon jatinya sekarang menurut cerita masih ada, tapi tetimbun di dalam bumi. Dulu ada yang secara tidak sengaja warga kami menggali semur kedalaman sekitar 10 Meter, disitu ada kayu jati yang melintang,’’imbuh Kades Jatimulyo.

Seiring berjalannya waktu, tempat ini sering digunakan untuk pertemuan antara Kolopaking III dengan Than Pheng Phio dan akhirnya dinamakan Jatimulyo ( Kemulyaan). Pada suatu hari Than Pheng Phio berwasiat kepada Kolopaking III apabila Wafat untuk dimakamkan di tempat pertemuan keduanya.

Setelah Wafat, Than Pheng Phio pun dimakamkan ditempat tersebut atau tepatnya di tengah sawah. Bergaya arsitektur Tionghoa dan cukup menyolok, makam ini diisangga dengan 4 pilar, dan cungkup yang terbuka. Belum lagi tatanan batu berlapis semen setinggi 1meter dari permukaan tanah. Makam ini adalah bagian dari Cagar Budaya yang dilindungi oleh Pemerintah.

Tak hanya itu, terdapat juga Batu Nisan yang dihiasi dengan ornamen khas Tionghoa, seperti sepasang burung Hong pada sayap kiri dan kanan nisan, serta beberapa tulisan dalam aksara mandarin.

Di tengah nisan terdapat tulisan “R.A. K.R.A.T. Kalapaking III (R.A. Tan Peng Nio), istri R.M. Soleman Kertawangsa.” Lalu ada tulisan “Anak: K.R.T. Endang Kertawangsa, R.A. Mulat Ningrum” dan “Menantu: R.A. Jati Arum, R. Tjondro Dahono, R. Kertalaksana”, serta “Cucu: R. Kertawangsa Gandawijaya / Ki Pongge, R. Kertawangsa Tjandrawijaya / Ki Legowo, R.A. Eguningrum, R. Bintara Ajiwijaya, R. Harjo Jadmiko”.

R.A. Tan Peng Nio disebut sebagai anggota Laskar Tionghoa atau pasukan Kapitan Sepanjang, yang bertugas di garis depan pertempuran. Pasukan ini berada di bawah komando pasukan besar Raden Mas Garendi atau Sunan Kuning dalam perang gerilya melawan VOC di Jawa Tengah hingga Jawa Timur pada masa itu.

Tan Peng Nio adalah anak dari Jendral Tan Wan Swee. Namun ada dua versi berbeda mengenai siapakah sebenarnya Jenderal Tan Wan Swee ini.

Versi pertama menyebutkan bahwa Jenderal Tan adalah seorang Jenderal yang memberontak melawan Kaisar Kien Long dari Dinasti Qing, China. Saat kudeta gagal, ia menitipkan putrinya, Tan Peng Nio kepada seorang sahabat baiknya Lia Beeng Goe, seorang ahli bela diri yang melarikan diri ke Singapura kemudian ke Sunda Kelapa (Jakarta

Versi kedua mengatakan bahwa ia adalah seorang Jenderal pelarian dari Tiongkok yang turut ambil bagian dalam Perang Geger Pecinan, bersama Raden Mas Garendi. Tan Wan Swee disebutkan sebagai tokoh berpengaruh yang mengajarkan seni bela diri Kuntao kepada masyarakat Kebumen.

Pada saat Perang Geger Pecinan meletus, Tan Peng Nio bersama Lia Beeng Goe kemudian mengungsi ke arah timur dan bertemu dengan Kiai Honggoyudho yang mahir membuat senjata.

Disebutkan bahwa Kiai Honggoyudho-lah yang mengajak Tan Peng Nio bergabung bersama 200 pasukan Panjeer Roma, bentukan K.R.A.T. Kolopaking II, yang dikirimkan untuk membantu pasukan Pangeran Garendi, pada saat perang mulai menyebar ke Jawa Tengah.

Konon perang gerilya yang berlangsung selama 3 tahun, Tan Peng Nio menyamar sebagai prajurit lelaki. Selama berada dalam pasukan, ia juga berkenalan dengan Raden Sulaiman Kertowongso, putra dari K.R.A.T. Kolopaking II.

Setelah perang usai, Tan Peng Nio menikah dengan Raden Sulaiman yang kemudian menggantikan ayahnya menjadi K.R.A.T. Kolopaking III. Tan Peng Nio kemudian diberi gelar Raden Ayu.

Seberapa besar jasa perjuangan Tan Peng Nio melawan penjajah Belanda pada saat itu, tidak ada yang bisa memastikan. Namun, kehadirannya, turut memberi warna dalam sejarah bangsa melawan penjajahan Belanda.

Desa Jatimulyo sendiri terdiri dari 4 Dukuh. Pertama yaitu Dukuh Karangduwur RW 01, dan terdapat makam Syeh Abdul mu’id,yaitu Tokoh yang mendirikan Masjid Karang duwur. Pada setiap malam Jum’at, tempat ini banyak dijumpai para santri yang berziaroh.

Ke dua Dukuh Jatimalang Kulon di RW 02. Dukun ini terdapat tempat yang dikenal dengan dengan daerah “Sidawayah” yaitu tempat peristirahatan R.Syahid. Ia merupakan orang yang pertama tingggal di Desa Jatimulyo, bahkan banyak yang mengatakan beliau adalah Lurah pertama Desa Jatimulyo.

Kemudian Dukuh Jatimalang Tengah di RW 03. Dukuh ini dikenal dengan dengan daerah pengrajin barang barang atau Alat dapur dari bahan tembaga seperti dandang, kendil, kenceng, dan lain lain. Terkahir Dukuh Jatimalang Wetan RW 04. Dukuh ini dikenal sebagai tempat sekitar lokasi Pertemuan Kolopaking III dan Tan Peng Nio.

Pada tahun 1993 Desa Jatimulyo Blok Gendek dan Siwatu yang di kenal orang Jatimulyo sebagai tempat angker, di bangun perumahan RSS / Rumah sangat sederhana Korpri Kabupaten Kebumen sebanyak 340 unit rumah type 21 M.

Kini perumahan tersebut sekarang telah di tempati sekitar 500 KK yang mayoritas PNS. Bentuk Rumah RSS tersebut pun telah berubah karena telah banyak yang di renovasi, dan masing masing rumah telah bersertifikat SHM (Sertifikat Hak MiliK).

Pada jaman penjajahan Belanda Desa Jatimulyo sudah di pimpin oleh Lurah / Kepala Desa, Kepala Desa pertama tahun 1850 adalah Raden Syahid. Kemudian pada tahun 1900 di pimpin oleh Lurah ke dua yaitu Mad Reja.

Selanjutnya di tahun 1920 di pimpin oleh Lurah ke 3 yaitu H.Dulgani. Pada tahun 1945 Desa Jatimulyo di pimpin H.Chalimi dan di masa ini menerbitkan Buku tanah C. Di tahun 1984 jabatan lurah H.Chalimi di rubah menjadi Jabatan Kepala Desa dengan tugas dan fungsi yang sama.

Lurah atau Kepala Desa waktu itu mempunyai kharisma dan wibawa yang tinggi, sehingga apapun perintah dari Lurah/Kepala desa akan di patuhi oleh warganya. Masa jabatan Lurah/Kepala Desa waktu adalah tidak terbatas.

Pada waktu itu penduduk Desa Jatimulyo umunnya adalah Petani dan Pedagang karena letaknya geografis. Desa yang dekat dengan Pasar Kebumen, sebagian Penduduk yang lain berprofesi sebagai Pengrajin tembaga serta pengrajin/pembuat tempe kedelai bungkusan daun.

Tahun 1989 Desa Jatimulyo di Pimpin oleh Lurah/Kepala Desa ke 5 yaitu H. Ajib Sugiyanto, yang terpilih berdasarkan hasil pemilihan Kepala Desa, dimana saat itu masa jabatan Lurah/Kepala Desa adalah 8 tahun. DI masa kepemimpinan H. Ajib Sugiyanto inilah atau tahun 1993 di bangun Perumahan RSS KORPRI Kabupaten Kebumen sebanyak 340 unit rumah dengan cara pembebasan tanah Masyarakat seluas 5,5 Hektar yang terdiri dari tanah non produktif seluas 3,5 H dan tanah sawah 2 H.

Pada tahun 1999 Desa Jatimulyo di pimpin oleh Lurah/Kepala Desa ke 6 yaitu Paryadi dengan masa jabatan sama dengan Kepala Desa sebelumnya. Pada masa kepemimpinan Paryadi inilah dilakukan pemavingan jalan jalan Protokol se Desa Jatimulyo, termasuk beberapa jalan lingkungan.

Tahun 2003 Pemerintahan Lurah/Kepala Desa Paryadi membangun Gedung Pertemuan Desa dengan ukuran Panjang 20 M , Lebar 10 M,dan tinggi 6 M. Bangunan tersebut di beri nama Gedung “Sasana Temu Warga” yang di resmikan oleh Bupati Rustriningsih.

Pada tahun 2002 di bentuklah Lembaga Desa yaitu Badan Perwakilan Desa dengan cara pemilihan langsung. Di tahun 2007 kembali diadakan pemilihan BPD yang berganti nama menjadi Badan Permusyawaratan Desa.

Pada tahun itu juga adakan Pemilihan Kepala Desa Jatimulyo,dan terpilih menjadi Kepala Desa ke 7 adalah Muhrodin, dengan masa jabatan 6 tahun. Namun pada bulan Oktober tahun 2009, Muhrodin meninggalkan Desa Jatimulyo tanpa ijin. sehingga pada bulan Juni Tahun 2010 setelah melalui proses perundang undangan yang berlaku di berhentikan oleh Bupati Kebumen. Pada saat saat inilah Desa Jatimulyo tidak dapat mencairkan 50% dana ADD ( Alokasi Dana Desa ) karena ketiadaan Kepala Desa tersebut.

Kemudian pada tanggal 22 Desember tahun 2010 di adakan pemilihan Kepala Desa Jatimulyo. Dari pemilihan tersebut terpilih menjadi Kepala Desa ke 8 Desa yakni.Paryadi, dengan masa jabatan 6 tahun. Jabatan Paryadi sebagai Kepala Desa berakhir pada tahun 2017,

Selanjutnya di tahun 20217 kembali dilakukan pemilihan Kepala Desa dan Paryadi kembali terpilih menjabat sebagai Kepala Desa. Namun di tahun 2019, Paryadi meninggal dunia dan pada tahun 2020 dilakukan pemilihan Kepala Desa Antar Waktu (PAW). Dari hasil pilkades tersebut, Wahidun Kusniyanto terpilih menjadi Kepala Desa.(K24/THR)

Tentang Penulis: Redaksi

Gambar Gravatar
Redaksi Kebumen24