KARANGSAMBUNG – Bagi masyarakat khususynya Kabupaten Kebumen, mungkin sudah tidak asing mendengar sebuah tempat petilasan bernama Kyai Gusti Selomanik di Dukuh Grigak Desa Plumbon Kecamatan Karangsambung. Petilasan berbentuk makam di bawah pohon Nagasari ini, konon dikeramatkan sejak jaman perang melawan Belanda.

Petilasan tersebut dijaga seorang juru kunci yang bernama Joni (78) Lokasinya diatas bukit dan tak jauh dari pemukiman warga.Tempat ini sering dikunjungi oleh para peziarah, baik dari Kebumen maupun luar daerah.

Untuk sampai disana, peziarah bisa berjalan kaki melewati tangga tangga kecil yang dibuat oleh masyarakat setempat. Setelah sampai diatas bukit, terlihat sebuah pohon pohon besar yang konon telah berusia ratusan tahun di sekitar petilasan. Wajar jika tempat ini dinilai memiliki aura mistis dan keramat yang begitu kental.

Joni mengatakan tempat ini merupakan petilasan keturuanan raja bernama Danang Soetodoyo atau yang dikenal dengan Mbah Kyai Gusti Selomanik. Disebut Kyai Gusti lantaran konon cerita dulu ia merupakan seorang Ulama yang menyebarkan syiar Islam. Sedangkan Selomanik memiliki makna Selo berarti Batu dan Manik itu Intan.

‘’ Masyarakat di sini mengenal sosok Kyai Gusti Selomanik merupakan pejuang dan ulama berpribadi yang kuat seperti batu, namun hatinya mulia seperti intan. Meski kami belum ada saat itu namun kami meyakini dari cerita nenek moyang kami, Kyai Gusti itu orang yang memiliki karomah tinggi,’’ujar Joni saat ditemui di Petilasan, Minggu 6 Juni 2021.

Pria yang sudah 42 tahun menjadi juru kunci itu menceritakan pada jaman perang melawan Belanda, Kyai Gusti lari dari kejaran musuh hingga sampai di Dukuh Grigak. Karna haus, Kyai Gusti bersitirahat di sebuah batu besar. Namun dengan seketika keluarlah sumber mata air yang begitu besar dari balik batu. Tempat itu kini dikenal dengan Sendang Gondo Harum.

‘’ Menurut cerita Mbah Kyai Gusti saat itu lari dari kejaran Belanda, mulai dari Tembana Kebumen lari ke Peniron dan Kaligending, Kemudian sampai di Dukuh Grigak. Kemudian Kyai Gusti kehausan namun tidak ada air, hingga akhirnya Kyai Gusti berdoa dan keluarlah sumber mata air dari balik batu besar dan kini dikenal dengan Sendang Gondo Harum.’’tutur  pria yang akrab di sapa Mbah Joni itu.

Sendang yang berada ditengah sawah tersebut kini dipercaya sebagai tempat keramat. Dan bahkan tak sedikit pula masyarakat yang meyakini jika mandi ataupun minum air di sendang tersebut maka akan awet muda dan terkabul segala hajatnya.

‘’ Air di Sendang ini tidak pernah surut meskipun musim kemarau. Air nya juga bening dan segar. Konon katanya jika batu ini diangkat, airnya bisa menyembur ke atas dan satu Dukuh bisa terdampak Banjir. Makanya masyarakat sini nggak ada yang berani membuka batu yang menimbun sumber sendang ini,’’Imbuhnya.

Adapun bukit yang kini disebut sebagai Petilasan, di tandai dengan sebuah pohon langka yang berasal dari India. Pohon langka tersebut disebut Nagasari yang diyakini memiliki beberapa daya kekuatan magis, misalnya untuk keselamatan, kewibawaan, pengobatan, perlindungan terhadap orang jahat, binatang berbisa dan anti tenun. Sehingga tak heran sampai sekarang petilasan dan pohon itu di yakini oleh masyarakat sekitar di keramatkan mengandung petuah.

Joni mengatakan tempat ini sering di kunjungi warga, terutama pada Bulan Suro atau muharom dan di setiap malam Jum’at Kliwon. Sebagain orang biasanya ada yang ingin mencari barokah dan petuah. Mereka datang dari berbagai daerah kususnya Kebumen dan sekitarnya.

‘’ Ada pula yang datang dari berbagai daerah seprti Jakarta, Kalimantan, Sumatra dan kebanyakan orang yang datang adalah yang berkeinginan untuk mencalonkan jadi pejabat, anggota dewan dan lurah.’’tambahnya.

 

Mbah Joni mengaku Petilasan ini baru mulai dibangun sekitar tahun 1991 oleh warga. Namun sempat rusak, hingga akhirya diperbaiki kembali pada sekitar 3 tahun lalu. Hanya saja belum begitu maksimal. Untuk itu dirinya berharap ada perhatian pemerintah agar tempat ini bisa dijadikan sebagai tempat cagar budaya.

Sementara itu, Kepala Dusun Grigak Sugeng mengatakan, konon cerita tempat itu dulu pernah di singgahi oleh para Wali penyebar Agama Islam. Salah satunya Kyai Gusti Selomanik yang dipercaya merupakan keturuan dari Kerajaan Jogyakarta.

Sugeng mengaku tempat ini kedepan akan dikembangkan sebagai Wisata Religi. Namun ini semuanya butuh sentuhan bersama antara Pemeritah Desa maupun Kabupaten. Ia beharap tempat ini bisa dijadikan sebagai cagar Budaya karna mimiliki kandungan sejarah yang tinggi. Terlebih tempat ini sering dikunjungi masyarakat dari berbagai luar daerah. Dengan begitu bisa menjadi tempat edukasi dan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar.

‘’ Pemerintah Desa memang sudah merencanakan untuk pengembangan tempat ini sebagai wisata religi. Tapi anggaran memang belum ada. Dan kita berharap Pemkab Kebumen juga bisa membantu kami terutama dapat menjadikan tempat ini sebagai Cagar Budaya, dengan begitu saya yakin bisa menambah peningkatan ekonomi masyarakat,’’ujar Sugeng.(Tohri).

 

By Redaksi

Redaksi Kebumen24