Kakek Sebatang Kara di Petanahan, Lima Tahun Tinggal Digubuk Reot

oleh -

KEBUMEN, Kebumen24.com – Potret kehidupan rakyat miskin untuk mendapatkan kesejahteraan dan hunian layak di era moderen seperti sekarang ini ternyata masih saja ada di jumpai. Di RT 02, RW 02,  Desa Karangrejo, Kecamatan Petanahan Kebumen seorang warga bernama Sudarsono tinggal di gubuk reot dan hidup sebatang kara.

Pria yang akrap disapa Mbah Susah itu  telah lima tahun bertahan hidup sendiri di rumah yang seratus persen berbahan baku kayu dan bambu. Sedangkan untuk kebutuhan sehari hari, Mbah Susah hanya mengandalkan bantuan dari tetangga sekitar. Itu pun hanya untuk sekedar makan.

Di usianya yang tidak muda lagi, fisik Mbah Susah pun terlihat lemah. Bahkan, kedua matanya juga sakit dan tidak bisa melihat.

Mendengar informasi tersebut, Bupati Kebumen Arif Sugiyanto bersama Kapolres Kebumen AKBP Piter Yanottama, langsung meyempatkan waktunya menemui Mbah Sudarsono di tempat tinggalnya, Selasa 14 September 2021. Turut hadir mendampingi sejumlah pimpinan OPD, dan Komunitas Sedulur Kebumen.

Bupati melihat koondisi Mbah Susah memang benar benar memprihatinkan. Rumah berukuran sekitar 3×2 meter itu masih berlantaikan tanah. Belum lagi sebagian atap rumah banyak yang sudah bolong dan saat musim penghujan kakeh ini harus merasakan dinginnya air yang masuk ke celah rumah.

“Memang kondisinya memprihatinkan, jadi masih ada warga kita yang hidup sebatang kara sepertihalnya Mbah Sudarsono. Mereka hidup sendiri bertahun-tahun di tempat yang sangat tidak layak pakai. Secepatnya ini menjadi perhatian bersama,” ujar Bupati.

Melihat kondisi tersebut, Bupati meminta Mbah Sudarsono untuk dievakuasi atau di tempatkan di panti jompo agar lebih terurus. Termasuk akan segera mengoperasi kedua matanya yang sakit.

‘’ Kiat sudah krodinasikan dengan Dinsos agar segerea di evakuasi agar lebih terurus, kondisi kesehatannya juga kurang baik, kedua matanya sakit, kita minta untuk dioperasi dulu,”ucap Bupati.

Bupati mengataka sejaitnya ada rencana untuk membuatkan rumah layak huni. Namun, karena kepemilikan tanah yang bukan haknya, dan kondisinya sebatang kara tanpa keluarga, maka sebaiknya Mbah Susah diasuh oleh pemerintah melalui Dinas Sosial.

“Jadi kita putuskan untuk kita bawa oleh Dinsos, kita asuh di panti. Saya ucapkan terima kasih kepada warga dan kepala desa yang selama ini sudah ikut membantu Mbah Susah yang hidup sebatang kara ini. Ini adalah tanggung jawab pemerintah untuk memberikan perhatian kepada warganya yang hidup dalam kesusahan,” jelas Bupati. (K24/*)