SEJARAH

Jejak Sejarah Desa Banjareja Kuwarasan: Dari Padang Alang-Alang hingga Harapan Kemakmuran

4222
×

Jejak Sejarah Desa Banjareja Kuwarasan: Dari Padang Alang-Alang hingga Harapan Kemakmuran

Sebarkan artikel ini

KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Banjareja Kecamatan Kuwarasan Kabupaten Kebumen menyimpan kisah panjang yang sarat nilai sejarah dan kearifan lokal. Berdasarkan penuturan yang berkembang di masyarakat, asal-usul desa ini bermula dari hamparan luas alang-alang yang menjulang tinggi, sebelum akhirnya dibuka menjadi sebuah permukiman.

Konon, pembukaan wilayah tersebut dilakukan oleh tiga tokoh bersaudara, yakni Ki Paku Jati bersama dua saudara perempuannya, Ni Ragil dan Ni Ragil Suci. Mereka datang dan mulai membabat alang-alang dari arah selatan menuju utara, menandai awal terbentuknya wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Banjareja.

Dalam kisah yang dituturkan turun-temurun, Ki Paku Jati dikenal sebagai sosok yang tekun bersemedi dan hidup sederhana, bahkan sering beristirahat di sembarang tempat. Salah satu lokasi yang menjadi tempat persinggahan mereka adalah di bawah pohon beringin yang kini dikenal dengan sebutan Sawah Wringin.

Selain membuka lahan, ketiga tokoh tersebut juga dikenal taat beribadah. Untuk berwudhu, mereka mengambil air dari sebuah gentong, kemudian melaksanakan salat di wilayah selatan, tepatnya di sebelah utara area yang kini dikenal sebagai sawah milik almarhum Bapak Brahim.

Setelah alang-alang berhasil dibersihkan dan mengering, mereka membakarnya mulai dari bagian selatan hingga ke utara. Batas padamnya api kemudian dijadikan penanda wilayah. Karena pola wilayah yang terbentuk berbanjar, kawasan tersebut awalnya dinamai Banjarwinangun.

Banjarwinangun kemudian terbagi menjadi tiga bagian wilayah, yakni Tangkilan di sebelah utara, Pacor di sebelah timur, serta wilayah lainnya yang berkembang seiring waktu. Namun, karena kondisi yang belum makmur, nama Banjarwinangun akhirnya diubah menjadi Banjareja, yang memiliki makna harapan—“Banjar” berarti berderet atau berbanjar, dan “Rejo” berarti makmur.

Seiring perjalanan waktu, Ki Paku Jati wafat dan dimakamkan di Makam Plaosan. Sementara kedua saudarinya dikisahkan menghilang tanpa jejak. Untuk mengenang jasa beliau, nama Paku Jati kemudian diabadikan sebagai nama jalan di desa tersebut.

Masyarakat setempat juga meyakini sejumlah kisah mistis yang menyertai sejarah tersebut. Salah satunya adalah kepercayaan bahwa Ki Paku Jati menjelma menjadi burung perkutut buntut mencong atau dikenal sebagai burung gemek. Bahkan, terdapat cerita bahwa burung tersebut jika ditangkap di sekitar Makam Plaosan dapat berubah menjadi ular jali.

Kisah ini menjadi bagian dari warisan budaya dan identitas masyarakat Desa Banjareja yang terus dijaga hingga kini, sebagai pengingat akan perjuangan para leluhur dalam membuka dan membangun wilayah tersebut.

Sumber: Website Resmi Desa Banjareja


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

@Kebumen24.com