KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Pandansari, yang kini dikenal sebagai salah satu desa maju di Kecamatan Sruweng, memiliki sejarah panjang yang penuh dinamika, mulai dari zaman kolonial hingga masa modern.
Awal terbentuknya Desa Pandansari dimulai pada tahun 1927, ketika wilayah yang kini menjadi Pandansari terdiri dari tiga wilayah terpisah: Krenceng di selatan, Kuripan di barat laut, dan Pandansari di timur laut, masing-masing dipimpin oleh Lurah Ali, Lurah Marta Reja alias Dongkol Adam, dan Lurah Tirta Reja. Kesepakatan untuk menyatukan ketiga wilayah ini lahir melalui musyawarah tokoh masyarakat dan warga setempat. Sistem pemilihan kepala desa saat itu disebut “Dodokan”, di mana warga memilih calon dengan cara jongkok di belakang calon pilihannya.
Hasilnya, Bapak Sadi Resa terpilih sebagai Lurah pertama Desa Pandansari, memimpin selama kurang lebih 20 tahun dengan dukungan Sekretaris Desa Noto Sentono alias Diran. Di bawah kepemimpinan Sadi Resa, ekonomi berbasis pertanian berkembang, meski sempat terpuruk akibat serangan hama pada tahun 1930-an yang merusak pohon kelapa.
Seiring perkembangan zaman, pendidikan juga menjadi fokus. Pada tahun 1925, Desa Pandansari sudah memiliki Sekolah Rakyat (SR), yang awalnya berada di Kuripan dan dipindahkan ke Pita Pitu pada 1929, kini dikenal sebagai SD Negeri 2 Pandansari. Guru-guru lokal seperti Guru Mronol telah membuktikan kualitas sumber daya manusia desa sejak awal.
Masa penjajahan Jepang membawa tantangan besar bagi warga. Banyak warga mengalami kelaparan karena bahan makanan dirampas tentara Jepang, dan kondisi kesehatan memburuk akibat pakaian dari goni yang penuh kutu.
Setelah era kolonial, kepemimpinan Desa Pandansari dilanjutkan oleh Noto Sentono alias Dirin, kemudian Bapak Slamet Mitro Pawiro yang dikenal sebagai “Bapak Mitro” memimpin selama 32 tahun, mencatat masa kepemimpinan terlama dan dikenal dengan hubungan yang harmonis dengan warga.
Seiring waktu, pergantian kepala desa terus terjadi, termasuk Bapak Syukur Hadipurnomo, Bapak Kisno S.Pd, dan hingga kini Bapak Surono, yang memimpin hingga penyusunan RPJM Desa 2015-2019. Di masa modern, Desa Pandansari berhasil membangun berbagai fasilitas publik seperti SD, angkutan desa, masjid kokoh, jalan rabat beton, dan penerangan listrik hingga 80% wilayah desa.
Berbagai catatan penting pembangunan Desa Pandansari antara lain:
1. Tahun 1927: Berdirinya Sekolah Rakyat
2. Tahun 1989: ABRI masuk desa, sekaligus bencana tanah longsor
3. Tahun 1994: Listrik masuk desa
4. Tahun 2015: Hibah Insentif PAMSIMAS
Sejarah panjang ini menunjukkan bahwa Desa Pandansari terus berkembang, menghadapi masa sulit dan memanfaatkan peluang, hingga menjadi desa yang maju dan modern saat ini.
Sumber: pandansari.kec-sruweng.kebumenkab.go.id
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

















