SEJARAH

Sejarah Desa Trikarso: Dari Tiga Desa Hingga Cerita Mbah Genjil

1784
×

Sejarah Desa Trikarso: Dari Tiga Desa Hingga Cerita Mbah Genjil

Sebarkan artikel ini

KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Trikarso, yang kini dikenal sebagai salah satu desa di Kecamatan Sruweng, Kebumen, memiliki sejarah panjang dan legenda yang menarik untuk disimak. Dahulu, wilayah ini terdiri dari tiga desa berbeda: Desa Sangkeh, Desa Kepuh, dan Desa Jatingarang, masing-masing dengan karakter unik.

Desa Sangkeh dikenal dengan slogan “Bengseng Sangkeh,” yang menggambarkan masyarakatnya yang cenderung gemar berjudi dan bermabuk-mabukan. Desa Kepuh terkenal dengan “Umuk Kepuh,” menandakan warganya yang alim dan banyak tokoh agama. Sedangkan Desa Jatingarang dikenal sebagai desa pekerja keras dengan slogan “Kemplang Jatingarang.”

Pada 1914, ketiga desa ini digabung menjadi Desa Trikarso dengan Bapak Karsoprayitno sebagai kepala desa pertama. Sejak itu, Desa Trikarso mengalami berbagai perubahan kepemimpinan dan perkembangan sosial, mulai dari pemilihan kepala desa, bantuan pangan, hingga program BLT untuk warga miskin.

Legenda Mbah Genjil: Cantik Tapi Tragis

Selain sejarah administrasi, Desa Trikarso juga terkenal dengan legenda Mbah Genjil. Konon, Mbah Genjil adalah seorang gadis cantik dengan rambut panjang hingga mata kaki. Banyak pemuda dari berbagai lapisan masyarakat jatuh cinta padanya. Namun, ketika beliau harus memilih satu di antara para pelamar, Mbah Genjil memutuskan untuk dikubur hidup-hidup dengan tangan diikat benang putih, sebagai cara menentukan ajalnya.

Benang putih itu diperiksa setelah satu minggu, dan ternyata sudah tidak kuat, menandakan Mbah Genjil telah meninggal. Sejak saat itu, masyarakat Desa Trikarso membuat adat unik: ketika ingin menikahkan putra-putri mereka, dilakukan ritual melepaskan anak ayam dengan kaki diikat benang putih di sekitar makam. Tradisi ini kini mulai terlupakan seiring perkembangan zaman.

Tonggak Sejarah Desa Trikarso

  • 1946: Pemilihan Kepala Desa kedua, Bapak Nasran Martowisastro.
  • 1975: Bantuan nasi bulgur dan susu bubuk diberikan saat terjadi kemarau panjang 1963.
  • 1986: Pemilihan Kepala Desa ketiga, Bapak Suharto. Desa menerima bantuan ayam, tapi banyak mati karena penyakit Tetelo.
  • 1995-2019: Sejumlah kepala desa terpilih hingga Bapak Kherodin sebagai kepala desa ke-8 dengan masa jabatan 6 tahun.

Desa Trikarso kini telah berkembang pesat, tetapi legenda dan sejarah panjangnya tetap menjadi bagian penting dari identitas desa. Cerita tentang tiga desa awal dan Mbah Genjil menjadi pengingat budaya lokal yang unik, sekaligus warisan yang patut dihargai.

Sumber: trikarso.kec-sruweng.kebumenkab.go.id


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

@Kebumen24.com