SEJARAH

Sejarah Desa Karangsari Kutowinangun: Berawal dari Kisah Ki Ageng Singo Yudho dan Empat Wilayah Desa

873
×

Sejarah Desa Karangsari Kutowinangun: Berawal dari Kisah Ki Ageng Singo Yudho dan Empat Wilayah Desa

Sebarkan artikel ini

KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Karangsari di Kecamatan Kutowinangun, Kabupaten Kebumen, menyimpan sejarah panjang yang berakar dari kisah legenda dan perjalanan masyarakat agraris sejak masa Kerajaan Mataram. Tokoh sentral dalam sejarah desa ini adalah seorang satria dari Mataram bernama Ki Ageng Singo Yudho, yang oleh masyarakat setempat lebih dikenal dengan sebutan Mbah Gedor.

Menurut cerita turun-temurun, Ki Ageng Singo Yudho merupakan tokoh yang pertama kali membuka wilayah hutan atau babad alas di kawasan yang kini menjadi Desa Karangsari. Tempat pertama yang ia singgahi adalah sebuah wilayah yang sekarang dikenal sebagai Dusun Lerep.

Nama Lerep sendiri memiliki kisah unik. Konon, setiap kali Ki Ageng Singo Yudho datang ke wilayah tersebut, masyarakat hanya melihat bayangan yang bergerak sangat cepat, seolah seperti kilat. Dalam bahasa Jawa, kondisi itu disebut “tlerep-tlerep”, yang berarti melintas sangat cepat. Dari situlah kemudian masyarakat menamai wilayah tersebut dengan nama Lerep.

Hingga kini, jejak sejarah Ki Ageng Singo Yudho masih dapat ditemukan melalui sebuah situs yang dianggap sakral oleh masyarakat. Tempat tersebut sering dikunjungi para peziarah, baik dari dalam maupun luar Desa Karangsari.

Sebagai bentuk penghormatan kepada tokoh pendiri desa, masyarakat Karangsari setiap tahun menggelar Upacara Adat Palakiyah. Tradisi ini dilaksanakan setiap Kamis Wage pada bulan Ngasyuro dalam penanggalan Jawa.

Dalam prosesi tersebut, masyarakat bersama tokoh agama, tokoh masyarakat, serta unsur pemerintah desa dan Muspika berkumpul di situs Ki Ageng Singo Yudho. Salah satu rangkaian utama upacara adalah penyembelihan kambing sebagai simbol pengorbanan. Dagingnya kemudian dibagikan kepada masyarakat sebagai bentuk kebersamaan dan sedekah.

Setelah itu dilanjutkan dengan doa bersama untuk memohon berkah kepada Allah SWT agar Desa Karangsari selalu diberikan keselamatan, kemakmuran, dan kesejahteraan.

Awal Pembentukan Desa Karangsari

Berdasarkan sumber sejarah desa, pada abad ke-19 wilayah Karangsari belum menjadi satu pemerintahan desa seperti sekarang. Saat itu terdapat empat wilayah kecil yang dipimpin oleh tokoh masyarakat yang memiliki pengetahuan dan pengaruh besar di lingkungannya.

Para pemimpin tersebut tidak hanya mengurus pemerintahan, tetapi juga menangani berbagai persoalan sosial masyarakat, termasuk urusan adat hingga pemakaman warga.

Empat wilayah tersebut antara lain:

  1. Jetis Kidul dan Kauman
    Dipimpin oleh Ali Askhar (1900–1942), berdomisili di Jetis Kidul.
  2. Jetis Lor dan Jombor
    Dipimpin secara bergantian oleh beberapa tokoh, yaitu:
    • Kasan Sudiro bin Abu Bakar (1900–1921) – Jombor
    • Daman Huri bin Usman (1921–1926) – Jombor
    • Akhmad Iskhak bin H. Sholeh (1926–1942) – Jetis Lor
    • Zaenudin bin H. Noor (1942–1945) – Jombor
  3. Sikambang
    Dipimpin oleh Kartodiwiryo (1900–1942).
  4. Lerep dan Kembaran
    Dipimpin oleh Nitidiwiryo (1900–1942) yang berdomisili di Lerep.

Seiring perkembangan waktu, pemerintah kemudian menetapkan kebijakan untuk menggabungkan keempat wilayah tersebut menjadi satu pemerintahan desa, yang kemudian dikenal sebagai Desa Karangsari.

Makna Nama Karangsari

Nama Karangsari memiliki filosofi yang erat dengan kehidupan masyarakat pada masa itu. Sebagian besar wilayah desa dulunya berupa tanah darat atau tegalan, sementara sawah hanya berupa sawah tadah hujan yang biasanya hanya panen sekali dalam setahun.

Untuk memenuhi kebutuhan pangan, masyarakat memanfaatkan pekarangan dan lahan tegalan dengan menanam berbagai tanaman seperti singkong, ganyong, dan umbi-umbian. Hasil tanaman tersebut menjadi sumber pangan utama masyarakat saat itu.

Dari kondisi tersebut muncul nama Karangsari, yang berasal dari dua kata:

  • Karang : Pekarangan atau lahan darat
  • Sari : Inti atau hasil utama

Sehingga Karangsari dapat dimaknai sebagai “pekarangan yang menghasilkan banyak hasil”, menggambarkan kehidupan masyarakat yang bergantung pada hasil olahan tanah pekarangan dan tegalan.

Seiring perkembangan zaman, banyak lahan darat yang kemudian diubah menjadi sawah pertanian untuk meningkatkan produksi pangan, terutama beras.

Daftar Kepala Desa Karangsari

Setelah resmi menjadi satu pemerintahan desa, Karangsari dipimpin oleh beberapa kepala desa dari masa ke masa, yaitu:

  1. H. Nahrowi bin Usman (1945–1975) – Dukuh Jombor
  2. H. Amir Sulthon / S. Kartosuwiryo bin San Marto (1975–1989) – Dukuh Jetis Wetan
  3. H. Abdullah Alkarim / Sudirman bin Kudrat (1989–1999) – Lerep
  4. Mufroil bin H. Nasokha (1999–2006) – Dukuh Jetis Lor
  5. K.H. Aminudin Umar Alfaruq / K.H. Aminudin bin Sanusi (2006–2013) – Dukuh Kauman
  6. Daryanto bin H. Abdul Kodir Jaelani (2013–sekarang) – Dukuh Jetis Kulon

Kini, Desa Karangsari terus berkembang sebagai wilayah yang tetap menjaga tradisi sekaligus beradaptasi dengan perkembangan zaman, dengan semangat melestarikan sejarah dan nilai budaya yang diwariskan para leluhur.

Sumber: Website resmi Pemerintah Desa Karangsari Kutowinangun.


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

@Kebumen24.com