SEJARAH

Sejarah Desa Karangsari di Sruweng: Dari Jejak Sakti dan Raja Ngayogyakarta

581
×

Sejarah Desa Karangsari di Sruweng: Dari Jejak Sakti dan Raja Ngayogyakarta

Sebarkan artikel ini

KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Karangsari, Kecamatan Sruweng, Kabupaten Kebumen, menyimpan kisah panjang perjalanan sejarah yang menarik untuk ditelusuri. Dari sebuah kawasan hutan belantara atau grumbul di masa lampau, wilayah ini perlahan berkembang menjadi desa yang dihuni banyak keluarga serta dikenal memiliki tradisi budaya yang masih lestari hingga sekarang.

Menurut cerita turun-temurun masyarakat setempat, pada masa dahulu wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Karangsari masih berupa hutan. Suatu ketika datang seorang tokoh sakti bersama beberapa rekannya yang membuka kawasan tersebut untuk dijadikan tempat tinggal sekaligus lahan pertanian.

Upaya tersebut membuahkan hasil. Tanah di wilayah itu ternyata sangat subur, dengan kondisi permukaan yang bervariasi antara dataran tinggi dan rendah, sehingga sangat cocok untuk bercocok tanam. Dari awalnya hanya beberapa keluarga, lama-kelamaan jumlah penduduk semakin bertambah dan membentuk komunitas masyarakat yang menetap.

Seiring berkembangnya pemukiman di wilayah yang dahulu dikenal sebagai daerah Kebumian ini, kabar tentang ramainya penduduk konon sampai ke Keraton Ngayogyakarta. Mendengar hal tersebut, sang Raja kemudian mengutus seorang kepercayaannya untuk meninjau langsung kondisi wilayah tersebut.

Utusan dari keraton itu dikenal dengan nama Ky Panjer Sureng Rono. Ia pertama kali datang dan singgah di wilayah Panjer yang hingga kini dikenal sebagai Desa Panjer. Dari sana, ia kemudian memerintahkan beberapa bawahannya untuk menelusuri wilayah lain di sebelah barat, termasuk kawasan yang kini menjadi Desa Karangsari.

Di daerah Karangsari, salah seorang pendatang yang ikut membuka wilayah tersebut kemudian diangkat sebagai pemimpin pemerintahan desa dengan pangkat Akuwu atau pemimpin pertama yang membangun desa. Tokoh tersebut dikenal dengan nama Mbah Kuwu (Citra Dana) yang dipercaya sebagai perintis Desa Karangsari.

Sejak saat itu, nama Karangsari terus digunakan hingga sekarang dan kepemimpinan desa dilanjutkan oleh para penerus yang memegang pemerintahan desa dari generasi ke generasi.

Daftar Kepala Desa Karangsari dari Masa ke Masa

Berdasarkan catatan sejarah desa, berikut beberapa tokoh yang pernah memimpin Desa Karangsari:

1.    Mbah Kuwu (Citra Dana)

2.    Amad Murtama I

3.    Keti Wijaya

4.    Suta Wecana

5.    Tidak disebutkan namanya (asal Dukuh Sangkeh, Trikarso)

6.    Amad Murtama II

7.    Wangsa Tirta (dimakamkan di Pakuran)

8.    Karta Wijaya (dimakamkan di Karangpule)

9.    Warso Utomo (hingga tahun 1964)

  1. Mad Nasir (1964–1990)
  2. Saridjo Hadi Prayitno (1991–1999)

  3. Paedjan Sugiarto (1999–2007)

  4. Padmo Sukemi (2007–2013)

  5. Sutaryono (2013–2019)

  6. Sri Sukaryawati (2019–2025)

Tradisi Budaya yang Masih Lestari

Selain memiliki sejarah panjang, Desa Karangsari juga dikenal dengan adat istiadat yang masih dijaga hingga kini oleh masyarakat.

Beberapa tradisi tersebut antara lain:

Mapati

Upacara syukuran yang dilakukan ketika usia kehamilan memasuki empat bulan. Dalam tradisi ini terdapat simbol menggambar tokoh wayang Arjuna pada cengkir gading (kelapa muda berwarna kuning).

Mitoni

Tradisi syukuran ketika usia kandungan memasuki tujuh bulan sebagai bentuk doa keselamatan bagi ibu dan bayi yang dikandung.

Muputi atau Puputan

Tradisi memotong rambut bayi ketika tali pusarnya telah lepas sebagai simbol dimulainya kehidupan baru bagi sang bayi.

Selain itu, masyarakat juga masih melestarikan tradisi tahlilan untuk mendoakan anggota keluarga yang meninggal dunia, mulai dari hari ke-1 hingga hari ke-7, kemudian 40 hari, 100 hari, hingga 1000 hari.

Sedekah Bumi dan Tradisi Bulan Suro

Salah satu tradisi yang masih bertahan kuat di Desa Karangsari adalah Suran Desa atau Sedekah Bumi, yang dilaksanakan untuk menyambut datangnya bulan Suro dalam kalender Jawa.

Tradisi ini biasanya digelar di Pesarehan atau Paseban Sultan Van Kejawang. Dalam ritual tersebut, masyarakat secara bersama-sama melakukan slametan dengan menyembelih kambing jantan yang kemudian dimasak menjadi becek atau gulai dan dibagikan kepada seluruh warga desa.

Pelaksanaan acara biasanya jatuh pada Selasa Kliwon atau Jumat Kliwon, dan menjadi momen kebersamaan serta wujud syukur masyarakat atas hasil bumi dan keselamatan desa.

Tradisi Menyambut Ramadhan

Selain tradisi Jawa, masyarakat Karangsari juga memiliki tradisi religius yang disebut Sabanan atau Unggah-Unggahan. Istilah ini berasal dari kata munggah yang berarti naik atau memasuki fase baru, yakni berakhirnya bulan Syaban dan datangnya bulan suci Ramadhan bagi umat Islam.

Tradisi ini biasanya diisi dengan doa bersama, berbagi makanan, serta mempererat silaturahmi antarwarga sebagai bentuk kesiapan menyambut bulan puasa.

Dengan sejarah panjang dan kekayaan tradisi yang masih hidup hingga sekarang, Desa Karangsari tidak hanya menjadi saksi perjalanan waktu, tetapi juga menjadi contoh bagaimana nilai budaya dan kearifan lokal tetap terjaga di tengah perkembangan zaman.

Sumber: Website Desa Karangsari


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

@Kebumen24.com