KEBUMEN, Kebumen24.com – Di bagian utara wilayah Kecamatan Sruweng, Kabupaten Kebumen, terdapat sebuah desa yang menyimpan pesona alam sekaligus jejak sejarah yang menarik untuk ditelusuri. Desa tersebut adalah Condongcampur, sebuah desa perbukitan yang dikenal sebagai wilayah paling utara di Kecamatan Sruweng.
Secara administratif, Desa Condongcampur berada di Provinsi Jawa Tengah dengan kode wilayah Kemendagri 33.05.14.2021. Desa ini terletak pada koordinat 7°35′53″ Lintang Selatan dan 109°37′38″ Bujur Timur.
Wilayahnya berbatasan langsung dengan Kecamatan Karanggayam dan Kecamatan Pejagoan di sebelah utara, Kecamatan Pejagoan di timur, Desa Pandansari di selatan, serta Desa Donosari dan Desa Penusupan di sebelah barat.
Dikelilingi Bukit, Menjadi Hulu Sungai
Secara geografis, Desa Condongcampur berada di lereng selatan Perbukitan Condong dengan ketinggian sekitar 110 hingga 550 meter di atas permukaan laut (mdpl). Lanskap desa ini dikelilingi oleh sejumlah bukit yang menjadi ciri khas wilayahnya, di antaranya Bukit Krewed, Bukit Condong, Bukit Jatiwayang, Bukit Konjara, dan Bukit Pranji.
Selain keindahan perbukitan, desa ini juga dikenal sebagai hulu Sungai Kejawang, yang menjadi salah satu sumber aliran air bagi wilayah di sekitarnya. Kondisi alam tersebut menjadikan Condongcampur memiliki potensi besar dalam sektor pertanian sekaligus wisata alam.
Akses Menuju Desa Masih Terbatas
Meski memiliki panorama alam yang memikat, akses menuju Desa Condongcampur masih tergolong terbatas. Letaknya yang berada di kawasan perbukitan membuat kendaraan yang dapat menjangkau wilayah ini umumnya sepeda motor atau mobil jenis minibus.
Sebagian ruas jalan menuju desa masih berupa jalan tanah, sementara beberapa bagian lainnya telah diperkeras dengan jalan semen. Kondisi ini membuat pembangunan infrastruktur menjadi salah satu kebutuhan penting untuk mendukung perkembangan desa.
Mayoritas Warga Berprofesi Sebagai Petani
Kehidupan masyarakat Desa Condongcampur masih sangat erat dengan sektor pertanian, khususnya pertanian lahan kering atau tegalan. Berbagai komoditas unggulan dihasilkan dari wilayah ini, di antaranya kelapa, melinjo, petai, jenitri, serta singkong.
Sementara itu, generasi muda desa banyak yang memilih merantau ke kota setelah menyelesaikan pendidikan. Sebagian melanjutkan studi, dan tidak sedikit yang akhirnya menetap di luar daerah untuk bekerja.
Bukit Condong dan Jejak Wisata Masa Lalu
Sejarah kepemimpinan Desa Condongcampur juga mencatat sejumlah tokoh yang pernah memimpin desa tersebut. Salah satu yang paling lama menjabat adalah Kepala Desa Asmaredja, yang memimpin hampir selama 30 tahun. Setelah itu kepemimpinan desa dilanjutkan oleh Nurkolis, kemudian Sikin, dan saat ini dijabat oleh Arjo Winoto yang akrab disapa Rada.
Pada masa kepemimpinan Asmaredja, Condongcampur sempat dikenal sebagai tujuan wisata alam lokal. Salah satu daya tariknya adalah Bukit Condong, yang di puncaknya terdapat makam yang dikeramatkan oleh masyarakat setempat.
Berdasarkan tulisan pada batu nisan, makam tersebut diyakini milik seorang tokoh bernama Trunoyo. Kawasan ini dahulu sering dikunjungi warga, terutama saat momentum tertentu.
Bahkan pada setiap perayaan Idul Fitri, Bukit Condong pernah menjadi pusat hiburan rakyat. Berbagai pertunjukan seperti musik dangdut hingga kesenian kuda lumping digelar, sehingga menarik perhatian masyarakat dari berbagai daerah sekitar untuk datang berkunjung.
Potensi Besar Menjadi Desa Wisata
Meski berada di kawasan perbukitan dengan akses yang masih terbatas, Desa Condongcampur menyimpan potensi besar untuk berkembang. Keindahan alam, potensi pertanian, serta kearifan lokal masyarakat menjadi modal penting bagi desa ini.
Dengan dukungan pembangunan infrastruktur dan pengelolaan potensi wisata yang baik, Condongcampur berpeluang berkembang menjadi salah satu desa wisata di wilayah utara Kabupaten Kebumen.
Sumber: Wikipedia (diolah)
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

















