SEJARAH

Kejawang, Desa Wisata Budaya yang Menjaga Warisan Leluhur di Sruweng Kebumen

1199
×

Kejawang, Desa Wisata Budaya yang Menjaga Warisan Leluhur di Sruweng Kebumen

Sebarkan artikel ini

KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Kejawang di Kecamatan Sruweng, Kabupaten Kebumen dikenal sebagai desa yang kaya akan warisan budaya dan tradisi yang masih lestari hingga kini. Berjarak sekitar 12 kilometer dari pusat Kota Kebumen, desa ini berada di jalur utama Sruweng–Watulawang sehingga mudah dijangkau oleh berbagai jenis kendaraan.

Tak hanya memiliki panorama alam yang indah dengan topografi perbukitan, Desa Kejawang juga dikenal sebagai Desa Wisata Budaya yang mempertahankan berbagai tradisi leluhur di tengah derasnya arus modernisasi.

Julukan “Kejawang Gayeng, Masyarakate Seneng” menggambarkan kehidupan masyarakat yang harmonis, ramah, dan tetap menjunjung tinggi nilai budaya Jawa.

Kaya Tradisi dan Kesenian

Beragam kesenian tradisional masih tumbuh subur di Desa Kejawang. Salah satu yang paling khas adalah Seni Jam Janeng, kesenian musik bernuansa Islami khas Kebumen yang hingga kini memiliki tujuh grup aktif, di antaranya Langen Sari, Margo Utomo, Sabdo Rukun, Sekar Sari, Sido Rukun, Suryo Suminar, dan Tukul Sari.

Selain itu, terdapat pula berbagai kesenian lain seperti seni rebana, pedalangan, karawitan, hingga kesenian Jaranan atau Kuda Lumping yang memiliki beberapa kelompok aktif di berbagai dusun.

Tidak hanya kesenian, masyarakat Kejawang juga masih menjaga tradisi adat yang diwariskan secara turun-temurun, seperti tradisi Baritan, tradisi bulan Suro, Ruwah, Mulud, Rajab, hingga kegiatan keagamaan di bulan Ramadan dan Syawal.

Tradisi-tradisi tersebut menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat sekaligus daya tarik wisata budaya.

Upacara Baritan, Warisan Leluhur yang Sakral

Salah satu tradisi yang paling dikenal adalah Upacara Adat Baritan yang digelar setiap tanggal 1 Suro atau Tahun Baru Jawa.

Prosesi diawali dengan ziarah ke makam para leluhur Desa Kejawang, termasuk di kawasan Pesanggrahan Tambaksari. Setelah itu masyarakat menggelar doa bersama dan kenduri sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan atas keselamatan dan keberkahan.

Kata Baritan sendiri berasal dari istilah mBabar Sari Perwitan, yang bermakna menggelar inti sari pengetahuan leluhur agar dapat dipahami dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Tradisi ini menjadi simbol kuatnya ikatan spiritual masyarakat Kejawang dengan sejarah dan leluhur mereka.

Filosofi Kesenian Jaranan

Kesenian Jaranan atau Kuda Lumping juga menjadi bagian penting dari budaya Kejawang.

Kuda dalam pertunjukan ini melambangkan nafsu dan sifat angkara murka, sementara penunggangnya menggambarkan sosok ksatria yang mampu mengendalikan hawa nafsu tersebut.

Pertunjukan biasanya diiringi alat musik tradisional seperti kendang, gong, bonang, kenong, hingga selompret. Dalam beberapa pertunjukan, penari bahkan mengalami kondisi ndadi atau trance, yang diyakini sebagai bentuk komunikasi spiritual dengan leluhur.

Untuk menjaga keselamatan pertunjukan, sesepuh kelompok jaranan biasanya menyiapkan sesaji seperti nasi tumpeng, ayam ingkung, bunga setaman, hingga berbagai ubarampe tradisional lainnya.

Pesanggrahan Tambaksari, Jejak Sejarah Mataram

Selain kaya budaya, Desa Kejawang juga memiliki nilai sejarah yang kuat melalui Pesanggrahan Tambaksari, sebuah petilasan yang berada di bukit setinggi sekitar 90 meter di atas permukaan laut.

Menurut cerita turun-temurun masyarakat, tempat ini pernah menjadi lokasi persinggahan Sultan Agung Mataram saat mempersiapkan penyerangan ke Batavia pada abad ke-17.

Selain itu, kawasan tersebut juga dikaitkan dengan perjalanan sejarah Pangeran Diponegoro saat masa Perang Jawa melawan Belanda.

Hingga kini, petilasan tersebut masih sering diziarahi masyarakat yang ingin memanjatkan doa dan mengenang sejarah perjuangan masa lalu.

Potensi Wisata Alam dan UMKM

Tak hanya budaya dan sejarah, Desa Kejawang juga menawarkan wisata alam seperti Curug Kejawang serta Bendung Plered, bendungan peninggalan era kolonial yang hingga kini masih berfungsi sebagai irigasi pertanian.

Di sisi ekonomi, masyarakat juga mengembangkan berbagai produk UMKM seperti kerajinan kayu, cobek batu, kerajinan tempurung kelapa, hingga berbagai jajanan tradisional seperti gethuk, serabi, wajik, dan lepet.

Kuliner khas desa juga menjadi daya tarik tersendiri, salah satunya menu tradisional sego golong pitu, yaitu nasi kepal berjumlah tujuh yang disajikan bersama gecok ayam, sayur kelor, dan trancam terong.

Menu ini memiliki cerita historis yang berkaitan dengan kisah Bondan Kejawan dan rombongan Mataram yang pernah singgah di wilayah tersebut.

Desa Budaya yang Terus Berkembang

Dengan kekayaan tradisi, kesenian, sejarah, serta potensi wisata alam dan kuliner, Desa Kejawang memiliki peluang besar untuk berkembang sebagai desa wisata budaya unggulan di Kabupaten Kebumen.

Harapannya, pengembangan desa wisata ini tidak hanya menjadi daya tarik wisatawan, tetapi juga mampu meningkatkan perekonomian masyarakat serta menjaga kelestarian budaya warisan leluhur.

Sumber: Website Desa Kejawang


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

@Kebumen24.com