KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Kejawang, Kecamatan Sruweng, Kabupaten Kebumen, menyimpan kisah sejarah panjang yang sarat nilai budaya, spiritualitas, dan perjuangan. Sejarah desa ini diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat, terutama melalui para Juru Kunci Petilasan Tambaksari yang menjaga situs bersejarah tersebut dari generasi ke generasi.
Petilasan Tambaksari menjadi penanda penting perjalanan sejarah Desa Kejawang. Situs yang dianggap sakral ini diyakini sebagai tempat persinggahan tokoh-tokoh besar dalam sejarah Jawa. Hingga kini, tradisi menjaga dan merawat petilasan tetap dilestarikan oleh para juru kunci yang menjadi penjaga cerita dan warisan budaya desa.
Para Juru Kunci Petilasan Tambaksari yang pernah menjabat antara lain Yasadiharjo, Mardi, Madwikarto (Jas), Karsiman, hingga Paristiono yang saat ini menjadi juru kunci.
Jejak Pra-Islam: Punden Berundak dan Arca Ganesha
Sejarah Kejawang diyakini sudah ada sejak masa sebelum masuknya Islam ke tanah Jawa. Pada masa itu, masyarakat setempat telah mengenal konsep kepercayaan kepada Sang Pencipta Alam Semesta.
Salah satu bukti peninggalan masa tersebut adalah ditemukannya Arca Ganesha di Goa Gadog, Dukuh Rawamenjangan. Artefak ini menunjukkan adanya pengaruh budaya Hindu pada masa lampau.
Masyarakat kala itu membangun tempat pemujaan berupa punden berundak di atas bukit. Lokasi yang tinggi dipercaya sebagai tempat paling suci untuk berdoa kepada Yang Maha Kuasa. Di bawah bukit biasanya mengalir sungai yang digunakan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus untuk menyucikan diri sebelum naik ke tempat pemujaan.
Persinggahan Sultan Agung dan Asal-usul Nama Kejawang
Memasuki era penyebaran Islam di Jawa, Desa Kejawang disebut memiliki kaitan dengan perjalanan dakwah Sultan Agung Hanyokrokusumo, Raja Mataram Islam.
Menurut cerita lisan masyarakat, sekitar tahun 1626–1628, ketika Sultan Agung melakukan ekspedisi menuju Batavia untuk menyerang VOC, rombongannya sempat singgah di Bukit Tambaksari.
Di tempat itu, Sultan Agung bersama para pengikutnya beristirahat. Pengaruh dakwah Islam yang dibawa rombongan tersebut kemudian mengubah tradisi masyarakat setempat. Arca simbol pemujaan lama dipindahkan dan dikuburkan di kawasan Gadog yang kini menjadi area pemakaman umum Rawamenjangan.
Bukit Tambaksari kemudian dijadikan pesanggrahan atau tempat singgah. Hingga kini, lokasi tersebut dikenal sebagai Petilasan Tambaksari.
Di dalam dan sekitar cungkup petilasan terdapat beberapa penanda tokoh yang diyakini pernah singgah di tempat tersebut, di antaranya Sultan Agung, Pangeran Giriwongso, Dyah Ayu Sekararum, Bondan Kejawan, Kyai Lurik, Ki Ageng Pandanaran, dan Ki Joyo Kusumo. Penanda tersebut bersifat simbolis dan bukan makam fisik tokoh-tokoh tersebut.
Legenda Hidangan Sederhana yang Mengabadikan Nama Desa
Salah satu kisah menarik dari sejarah Kejawang adalah legenda tentang hidangan sederhana yang disajikan kepada Sultan Agung.
Dikisahkan, ketika rombongan Sultan Agung merasa lapar di Bukit Tambaksari, ia memerintahkan Bondan Kejawan untuk mencari makanan. Bondan kemudian bertemu seorang warga bernama Nyi Jemik di kaki bukit.
Dengan penuh kebanggaan melayani tamu dari Mataram, Nyi Jemik menyiapkan hidangan sederhana berupa:
- Gecok ayam, ayam bakar yang disuwir dan dimasak dengan santan berbumbu.
- Kelan kelor, sayur bening daun kelor.
- Cramcam terong, sambal berbahan terong kecil.
- Golong pitu, tujuh kepal nasi.
Hidangan tersebut ternyata sangat disukai Sultan Agung. Sebagai bentuk penghargaan, ia memberikan tanah perdikan kepada Bondan Kejawan serta menugaskannya menyebarkan agama Islam dan merekrut masyarakat setempat menjadi prajurit Mataram.
Sejak saat itu, wilayah tersebut dikenal dengan nama Kejawang, yang diyakini berasal dari nama tokoh Bondan Kejawan.
Tradisi Kenduri yang Tetap Hidup
Warisan budaya dari kisah tersebut masih terasa hingga kini. Masyarakat Desa Kejawang memiliki tradisi ziarah ke Petilasan Tambaksari sebelum menggelar hajatan seperti pernikahan atau khitanan.
Setelah berziarah, warga biasanya mengadakan kenduri dengan menu yang sama seperti hidangan yang dulu disajikan kepada Sultan Agung, yakni Golong Pitu, Gecok Ayam Jago, Kelan Kelor, dan Cramcam Terong.
Tradisi ini dipercaya membawa keselamatan dan keberkahan bagi keluarga yang memiliki hajatan.
Persembunyian Pangeran Diponegoro
Petilasan Tambaksari kembali menjadi saksi sejarah pada masa Perang Jawa (1825–1830) yang dipimpin Pangeran Diponegoro.
Dalam catatan sejarah, tempat ini pernah dijadikan lokasi persembunyian sekaligus markas pergerakan Diponegoro. Dari kawasan Bukit Tambaksari pula, Diponegoro sempat bertemu Kolonel Cleerens.
Namun perundingan resmi tidak dilakukan di petilasan, melainkan di Paseban yang kini berada di wilayah Desa Karangsari. Diponegoro menolak menyerah dan menuntut perundingan langsung dengan Jenderal De Kock.
Pertemuan akhirnya digelar di Magelang pada 28 Maret 1830. Sayangnya, perundingan tersebut menjadi jebakan Belanda yang berujung pada penangkapan Pangeran Diponegoro. Perang Jawa pun berakhir setelah beliau diasingkan ke Makassar hingga wafat.
Masa Hindia Belanda hingga Pemugaran Petilasan
Pada masa Hindia Belanda, wilayah Desa Kejawang diperkirakan lebih luas dibanding sekarang, meliputi wilayah Tanggeran dan Karangjambu. Bukti historis menunjukkan tanah bengkok desa berada di wilayah Tanggeran, sementara Pasar Kejawang secara administratif berada di Karangjambu.
Petilasan Tambaksari kemudian mengalami pemugaran besar pada 1 Januari 1977. Pemugaran ini diprakarsai oleh Mulyo Utomo bersama masyarakat Desa Kejawang. Bangunan yang sebelumnya berbahan kayu diganti menjadi bangunan tembok batu bata.
Kini, Petilasan Tambaksari telah tercatat sebagai salah satu situs budaya di bawah pengawasan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kebumen.
Catatan Perjalanan Desa: Dari Penderitaan hingga Pembangunan
Sejarah Desa Kejawang juga mencatat berbagai peristiwa penting yang membentuk perjalanan masyarakatnya.
Pada masa pendudukan Jepang tahun 1942–1943, masyarakat mengalami penderitaan akibat kelaparan dan wabah penyakit seperti beri-beri dan patek.
Pada tahun 1948, ketika terjadi Agresi Militer Belanda II yang dikenal sebagai “Geger Candi”, Desa Kejawang menjadi tempat pengungsian warga dari wilayah Candi sekaligus lokasi dapur umum bagi para pengungsi.
Berbagai bencana juga pernah melanda desa ini, mulai dari banjir bandang, hujan abu gunung berapi, hama tikus yang menyebabkan gagal panen, hingga kebakaran rumah warga.
Di sisi lain, pembangunan desa terus berjalan. Program pemerintah sejak tahun 1970-an membawa berbagai kemajuan seperti pembangunan sekolah dasar, balai desa, pelebaran jalan, hingga program kesehatan dan air bersih.
Desa yang Terus Menjaga Warisan Sejarah
Hingga kini, Desa Kejawang tidak hanya dikenal sebagai desa yang terus berkembang, tetapi juga sebagai desa yang kuat menjaga tradisi dan sejarahnya.
Petilasan Tambaksari menjadi simbol bahwa perjalanan sebuah desa tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik, tetapi juga oleh nilai sejarah, budaya, dan kearifan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Sumber: Website Desa Kejawang
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

















