KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Giwangretno di Kecamatan Sruweng, Kabupaten Kebumen memiliki perjalanan sejarah yang panjang dan menarik. Desa ini lahir dari persatuan dua wilayah kecil yang dahulu hidup berdampingan, yakni Grumbul Jimbun di bagian selatan dan Grumbul Gumiwang di bagian utara.
Kisah berdirinya Desa Giwangretno tidak hanya mencerminkan perjalanan sosial masyarakat, tetapi juga menggambarkan dinamika perjuangan rakyat pada masa penjajahan hingga masa kemerdekaan Indonesia.
Awal Mula Dua Wilayah
Berdasarkan berbagai sumber sejarah desa, wilayah Giwangretno pada masa lampau terdiri dari dua kelompok masyarakat yang hidup berdampingan namun memiliki karakter berbeda.
Di wilayah selatan terdapat Grumbul Jimbun yang dipimpin oleh seorang tokoh perempuan bangsawan dari Yogyakarta, Raden Ayu Retno Wulan, keturunan Mangkubumi V. Ia didampingi suaminya, Raden Tunjung Rogo Kusumo, yang berasal dari trah Keraton Kasunanan Surakarta.
Di bawah kepemimpinan keduanya, masyarakat Jimbun dikenal hidup rukun dan sejahtera. Bahkan pada masa penjajahan Belanda, wilayah ini relatif aman karena penjajah jarang masuk untuk menarik pajak atau upeti.
Sementara itu di sebelah utara terdapat Grumbul Gumiwang yang dipimpin oleh seorang petani kaya bernama Ki Prayagati. Wilayah ini berkembang pesat karena menjadi jalur alternatif bagi pasukan kolonial Belanda menuju Benteng Van Der Wijck di Gombong.
Selain pertanian, masyarakat Gumiwang juga dikenal sebagai pengrajin genteng yang hasil produksinya dikirim hingga ke daerah Sokka melalui jalur rel kereta api.
Bersatu di Masa Perjuangan
Persatuan masyarakat Jimbun dan Gumiwang mulai terjalin erat ketika terjadi perlawanan terhadap penjajah Belanda. Salah satu peristiwa penting adalah pertempuran di Kali Kemit, ketika pasukan pejuang kemerdekaan melawan Belanda di bawah komando Tumenggung Kolopaking IV dari Kerajaan Mataram.
Setelah masa penjajahan Belanda berakhir sekitar tahun 1943, Jepang datang menguasai Indonesia. Pada masa itu, Dusun Jimbun dipimpin oleh Ki Marso Taruno, seorang pemuda asal Solo yang tergabung dalam organisasi militer Pembela Tanah Air (PETA).
Lahirnya Desa Giwangretno
Pasca kemerdekaan Indonesia, wilayah Kebumen masuk dalam pembagian administrasi militer di bawah beberapa kawedanan. Saat itu Jimbun dan Gumiwang berada dalam wilayah Kawedanan Pejagoan.
Untuk memudahkan penataan wilayah dan pemerintahan, pada Kamis Kliwon, 22 September 1945, kedua wilayah tersebut resmi digabung menjadi satu desa bernama Giwangretno.
Kepala desa pertama adalah Ki Rekso Utomo, putra asli dari wilayah Jimbun. Namun masa kepemimpinannya hanya berlangsung sekitar dua tahun karena beliau meninggal dunia akibat penyakit TBC.
Pembangunan Awal Desa
Setelah wafatnya Ki Rekso Utomo, masyarakat menggelar pemilihan kepala desa pertama. Jabatan tersebut kemudian dipegang oleh Marsotaruno, seorang anggota Tentara Keamanan Rakyat yang mengabdikan diri membangun desa.
Pada masa kepemimpinannya, sejumlah fasilitas penting mulai dibangun, antara lain:
1. Pasar Tengok, sebagai pusat perekonomian masyarakat.
2. Lapangan desa, yang digunakan sebagai tempat olahraga dan kegiatan masyarakat.
3. Dua masjid utama, yaitu di Gumiwang dan Jimbun, sebagai pusat ibadah warga.
4. Sekolah negeri dan sekolah berbasis agama, untuk meningkatkan pendidikan masyarakat.
5. Pembangunan jalan desa, yang menghubungkan Giwangretno dengan wilayah Trikarso, Sidoharjo, dan Adimulyo.
Pada tahun 1974, Balai Desa Giwangretno dipindahkan dari wilayah Jimbun ke lokasi yang lebih strategis di Dusun Gumiwang. Hingga kini kantor desa masih berdiri di tanah kas desa di tepi jalan utama penghubung Giwangretno–Trikarso.
Dinamika dan Perkembangan Desa
Seiring perjalanan waktu, Desa Giwangretno mengalami berbagai peristiwa penting, baik kemajuan maupun tantangan.
Pada tahun 1963, program ABRI Masuk Desa mendorong pembangunan infrastruktur seperti sekolah dasar dan jalan desa melalui kerja bakti masyarakat.
Namun desa juga pernah mengalami masa sulit, seperti gagal panen akibat serangan hama wereng, banjir akibat jebolnya Waduk Sempor pada 1975, hingga masa ketegangan politik pada peristiwa G30S 1965.
Di era modern, pembangunan desa terus berkembang melalui berbagai kepemimpinan kepala desa, mulai dari pembangunan pasar, lapangan sepak bola, pengaspalan jalan desa, hingga fasilitas pendidikan dan pelayanan masyarakat.
Desa yang Terus Berkembang
Kini Desa Giwangretno terus berbenah mengikuti perkembangan zaman. Berbagai program pembangunan dan pelayanan masyarakat terus dilakukan demi meningkatkan kesejahteraan warga.
Sejarah panjang desa ini menjadi bukti bahwa persatuan dua wilayah kecil di masa lalu mampu melahirkan sebuah desa yang kokoh, berakar kuat pada nilai kebersamaan, serta terus bergerak menuju masa depan yang lebih maju.
Sumber: website Desa Giwangretno
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

















