KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Klepusanggar di Kecamatan Sruweng, Kabupaten Kebumen, menyimpan kisah sejarah panjang yang menarik untuk ditelusuri. Nama desa ini bukan sekadar sebutan geografis, tetapi lahir dari perjalanan sejarah dua desa lama yang akhirnya bersatu: Desa Karang Tengah dan Desa Sanggar.
Awal Mula: Desa Karang Tengah dan Jejak Keraton Yogyakarta
Pada masa penjajahan, pemerintah kolonial kerap menggabungkan desa-desa kecil menjadi satu wilayah administratif. Salah satu yang mengalami penggabungan adalah Desa Karang Tengah dan Desa Sanggar, yang kemudian dikenal sebagai Desa Klepusanggar.
Desa Karang Tengah memiliki hubungan erat dengan Keraton Yogyakarta. Wilayah ini dahulu merupakan tanah peninggalan kerabat keraton yang dikelola oleh seorang pejabat desa bernama Demang Kejawang. Tugasnya tidak hanya mengawasi tanah tersebut, tetapi juga memastikan upeti atau pajak dari hasil bumi disetorkan kepada Keraton Yogyakarta.
Sebagai bentuk penghargaan atas tugas tersebut, Ki Demang diberi hak mengelola sejumlah lahan sawah yang kini dikenal sebagai Sawah Dalem—yang berarti sawah milik atau kagungan Sang Demang.
Seiring bertambahnya usia, Ki Demang merasa tidak lagi mampu mengurus seluruh tanah peninggalan keraton beserta kewajiban upetinya. Ia kemudian mengangkat saudaranya, Jaya Mustari, untuk menjadi lurah di Desa Karang Tengah.
Tak lama setelah itu, pemerintah mengadakan kebijakan pemutihan tanah di sejumlah wilayah, termasuk Karang Tengah. Sejak saat itu, desa tersebut dikenal sebagai Desa Pemutihan, karena pajaknya tidak lagi disetorkan ke Keraton Yogyakarta.
Desa Sanggar: Jejak Spiritualitas Hindu-Buddha
Sementara itu, di wilayah Desa Sanggar terdapat sebuah bangunan yang diyakini sebagai candi kecil. Tempat ini dahulu digunakan sebagai lokasi bertapa, bersemedi, dan pemujaan oleh masyarakat yang menganut ajaran Hindu-Buddha.
Karena fungsi spiritual tersebut, tempat itu dikenal sebagai Sanggar Pamujan, yang kemudian menjadi asal nama Desa Sanggar.
Beberapa nama lurah yang pernah memimpin Desa Sanggar hingga tahun 1913 antara lain:
- Lurah Bindeng
- Lurah Sibun
- Glondong Jantana
Pada tahun 1915, pemilihan lurah dilakukan dengan cara unik yang disebut sistem dodokan. Dalam sistem ini, para pendukung calon lurah akan berbaris sambil jongkok di depan kandidat yang mereka dukung. Dari pemilihan tersebut, Surip terpilih sebagai lurah.
Lahirnya Nama Klepusanggar
Ketika pemerintah akhirnya menggabungkan Desa Karang Tengah dan Desa Sanggar menjadi satu desa, muncullah nama Klepusanggar.
Nama ini berasal dari dua unsur penting sejarah kedua desa:
- Klepu: berasal dari pohon klepu besar di Desa Karang Tengah yang dahulu sering digunakan masyarakat sebagai tempat bertapa atau bersemedi.
- Sanggar: diambil dari Sanggar Pamujan di Desa Sanggar yang juga menjadi tempat ritual spiritual.
Karena kedua wilayah sama-sama memiliki tempat pertapaan atau semedi, maka kedua nama tersebut digabung menjadi Klepusanggar.
Perjalanan Sejarah Desa dari Masa ke Masa
Sejak masa kemerdekaan, Desa Klepusanggar mengalami berbagai peristiwa penting, baik yang membawa kemajuan maupun cobaan.
Beberapa peristiwa penting tersebut antara lain:
- 1945 – Warga mendapat bantuan konsumsi nasi dari pemerintah.
- 1946 – Dilaksanakan program pemberantasan buta huruf.
- 1948 – Terjadi pemberontakan di Desa Candi sehingga warga Klepusanggar sempat mengungsi.
- 1956 – Pemerintah memberikan bantuan sapi kepada masyarakat.
- 1960 – Tanggul sungai jebol sepanjang 25 meter.
- 1962–1963 – Pembangunan sekolah dasar pertama di desa.
- 1968 – Banjir besar dari Waduk Sempor melanda wilayah desa.
- 1971 – Pembangunan jembatan penghubung Dusun Karang Anom dan Karang Tengah, namun sempat ambrol akibat banjir.
- 1974 – Pembangunan saluran irigasi Sawah Dalem sepanjang 600 meter.
- 1980 – Pemilihan kepala desa dimenangkan oleh Pangat Sutedjo.
- 1981 – Pembangunan Balai Desa secara swadaya masyarakat.
- 1983 – Program AMD Manunggal III membuka akses jalan tembus menuju Desa Sidoagung.
- 1985 – Pembangunan Jembatan Soponyono.
- 1988 – Pembangunan Musholla Al-Mutohir dengan bantuan pemerintah kabupaten.
Selain itu, masyarakat juga pernah menghadapi masa-masa sulit seperti serangan hama tikus, hama ulat, paceklik panjang, serta banjir besar yang merusak pertanian warga.
Namun berkat semangat gotong royong, berbagai tantangan tersebut mampu dilalui hingga desa terus berkembang hingga sekarang.
Sumber: Website resmi desa Desa Klepusanggar
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

















