SEJARAH

Sejarah Desa Rowo, Dari Rawa Angker hingga Kampung Nelayan

423
×

Sejarah Desa Rowo, Dari Rawa Angker hingga Kampung Nelayan

Sebarkan artikel ini

KEBUMEN, Kebumen24.com – Di pesisir selatan Kabupaten Kebumen, tepatnya di Kecamatan Mirit, tersimpan kisah panjang tentang asal-usul Desa Rowo. Desa ini tidak hanya dikenal sebagai kampung nelayan, tetapi juga memiliki legenda turun-temurun yang masih diceritakan masyarakat hingga sekarang.

Legenda Desa Rowo

Berdasarkan cerita para sesepuh, wilayah Desa Rowo pada zaman dahulu merupakan hamparan rawa yang sangat luas dan dikenal angker. Tempat itu bahkan diibaratkan dengan ungkapan Jawa “jalmo moro jalmo mati”, yang menggambarkan betapa berbahayanya kawasan tersebut.

Konon, pada suatu hari datang seorang pertapa sakti bernama Mbah Roworejo, yang juga dikenal dengan sebutan Rowo Yudo. Ia diyakini mampu menaklukkan keangkeran rawa tersebut. Sejak saat itu wilayah tersebut mulai dihuni dan diberi nama Desa Rowo.

Menurut cerita masyarakat, Mbah Roworejo berasal dari kalangan kerajaan dan dikenal sebagai pelaut yang sangat mahir. Dalam kesehariannya ia mencari ikan di laut. Karena itulah, hingga kini banyak warga Desa Rowo yang mewarisi kemampuan melaut dan berprofesi sebagai nelayan.

Daftar Kepala Desa Rowo

Seiring perkembangan zaman, kepemimpinan desa terus berganti. Berikut beberapa tokoh yang pernah memimpin Desa Rowo:

  1. Mbah Lurah Jatan
  2. Wongso Dimejo
  3. Wongso Sudiro Sudar
  4. S. Mangkudidjoyo (hingga akhir 1953)
  5. Sastrowiryo (1953 – 1989)
  6. Slamet (1989 – 1999)
  7. Sagimin (1999 – 2007)
  8. Sarno (2007 – 2013 dan 2013 – 2019)
  9. Samsino (2019 – sekarang)

Pemilihan Kepala Desa terakhir dilaksanakan pada 25 Juni 2019, dan Samsino resmi dilantik pada 2 Agustus 2019.

Catatan Peristiwa Penting Desa Rowo

Perjalanan Desa Rowo juga diwarnai berbagai peristiwa penting, baik suka maupun duka.

  • 1943 – Warga mengalami masa sulit akibat kelaparan dan wabah penyakit kulit.
  • 1947–1948 – Situasi penjajahan Belanda masih terasa di wilayah ini.
  • 1950–1951 – Muncul kegiatan seni budaya seperti Wayang Orang dan Angklung.
  • 1964–1965 – Situasi nasional berpengaruh hingga ke desa akibat peristiwa G30S.
  • 1973 – Desa menerima bantuan beras bulgur, namun juga mengalami paceklik dan longsor di wilayah RW II.
  • 1980–1981 – Lahir kelompok seni Ketoprak “Wahyu Budaya” dan Wayang Kulit.
  • 1984 – Pembangunan Balai Desa secara swadaya masyarakat.
  • 1986 – Terjadi banjir di Dukuh Sidodadi, wilayah Trukan Rowo.
  • 2000 – Tradisi Sedekah Laut bulan Sura mulai rutin dilaksanakan setiap tahun.
  • 2002 – Dibangun Tempat Pelelangan Ikan (TPI) serta bantuan kapal nelayan.
  • 2003 – Terbentuk grup rebana desa.
  • 2012 – Berdiri Gedung PAUD.
  • 2016 – Renovasi Balai Desa dan Gedung Serbaguna.
  • 2018 – Renovasi Gedung FKD.
  • 2019 – Desa sempat menghadapi wabah Demam Berdarah Dengue (DBD).

Seiring berjalannya waktu, Desa Rowo terus berkembang dari wilayah rawa yang dahulu dianggap angker menjadi desa pesisir dengan kehidupan masyarakat yang dinamis, terutama di sektor perikanan dan budaya.

Legenda, sejarah, serta tradisi yang terus dijaga menjadi identitas kuat masyarakat setempat dalam menghadapi perubahan zaman.

Sumber: Website Desa Rowo


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.