KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Pekutan di Kecamatan Mirit memiliki perjalanan sejarah panjang yang berkaitan erat dengan dinamika politik Kesultanan Yogyakarta, masa penjajahan Belanda, hingga lahirnya sistem pemerintahan desa di Kabupaten Kebumen.
Sejarah tersebut bermula pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono IV di Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Pada masa itu, kondisi internal keraton diwarnai berbagai intrik politik, terutama terkait dukungan terhadap Pangeran Diponegoro. Campur tangan pemerintah kolonial Belanda dalam urusan kerajaan memperkeruh situasi, baik di dalam maupun di luar lingkungan istana.
Selain konflik politik, kebijakan penyewaan tanah kepada pengusaha swasta juga memicu penderitaan rakyat. Banyak warga yang tinggal di lahan sewaan dipaksa bekerja tanpa upah yang layak, sehingga menyebabkan kemiskinan meluas di berbagai wilayah.
Awal Berdirinya Kademangan Pekutan
Di tengah situasi tersebut, wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Pekutan mulai berkembang. Untuk mengenang salah satu pengikut yang wafat dalam perjalanan, seorang tokoh bernama RM Tambakboyo mengabadikan nama tersebut sebagai wilayah Kademangan Pekutan.
Pada 13 Agustus 1819, masyarakat setempat sepakat menobatkan RM Tambakboyo sebagai demang atau pemimpin pertama Kademangan Pekutan.
Perkembangan sejarah Pekutan juga tidak lepas dari Perang Diponegoro. Pada pertengahan Juli 1825, seorang pejabat istana bernama RT Joyosudarga III bergabung dengan perjuangan Pangeran Diponegoro di Selarong dan memimpin pertahanan di Ketawang.
Namun pada pertengahan Desember 1829, benteng tersebut diserang Belanda. RT Joyosudarga ditangkap dan kemudian dihadapkan kepada Sultan Hamengkubuwono V. Ia mendapat pengampunan dan namanya kemudian diubah menjadi RT Prawiroprojo.
Sebelum meninggalkan Ketawang, tongkat komando perjuangan diserahkan kepada wakilnya, Surowijoyo, yang kemudian menuju Kademangan Pekutan dan disambut oleh masyarakat bersama RM Tambakboyo. Pada awal tahun 1830, Surowijoyo dinobatkan sebagai pemimpin Kademangan Pekutan, sementara RM Tambakboyo menjadi sesepuh wilayah tersebut.
Penangkapan Pangeran Diponegoro
Sejarah penting lainnya terjadi ketika Belanda berupaya menghentikan perlawanan Diponegoro. Pada 16 Februari 1830, Kolonel Cleerens membujuk Pangeran Diponegoro untuk berunding. Pertemuan berlanjut hingga akhirnya dilakukan di Magelang.
Pada 28 Maret 1830, perundingan berakhir gagal. Pangeran Diponegoro kemudian ditangkap oleh pasukan Belanda dan diasingkan ke Manado. Peristiwa ini menandai berakhirnya Perang Diponegoro yang berlangsung selama lima tahun.
Dari Kadipaten Panjer ke Kabupaten Kebumen
Setelah perang berakhir, pemerintah kolonial Belanda membuat perjanjian dengan Kesultanan Yogyakarta pada 27 September 1830. Dalam perjanjian tersebut, tanah mancanegara milik kesultanan diserahkan kepada pemerintah kolonial sebagai kompensasi biaya perang.
Wilayah Kadipaten Panjer, yang merupakan bagian dari tanah kesultanan, kemudian jatuh ke tangan Belanda. Setelah berbagai operasi militer dan politik, pemerintah kolonial akhirnya menghapus nama Kadipaten Panjer.
Pada tahun 1833, wilayah tersebut resmi diubah menjadi Kabupaten Kebumen, dengan sistem pemerintahan baru di bawah pengaruh kolonial.
Tokoh yang berjasa dalam proses ini, RT Arungbinang IV, diangkat sebagai bupati pertama Kebumen dan memimpin dari tahun 1833 hingga 1861.
Perubahan Sistem Pemerintahan Pekutan
Perubahan administrasi juga berdampak pada Kademangan Pekutan. Pada tahun 1845, sistem kademangan diubah menjadi pemerintahan desa. Kepala desa pertama yang ditunjuk adalah Tjo Drono, yang memimpin hingga 1867.
Seiring berjalannya waktu, struktur wilayah Pekutan juga mengalami perubahan, termasuk penggabungan Desa Kembaran dengan Desa Pekutan pada awal abad ke-20. Setelah penggabungan tersebut, wilayah desa terbagi menjadi beberapa dusun, di antaranya Karanganyar, Kedaleman, Kertonolo, dan Kembaran.
Kepemimpinan Desa Pekutan
Sejak berdirinya hingga era modern, Desa Pekutan telah dipimpin oleh sejumlah tokoh. Pemimpin pertama adalah RM Tambakboyo pada tahun 1819, diikuti oleh Surowijoyo pada 1830, hingga berbagai kepala desa lainnya.
Memasuki masa kemerdekaan Indonesia, kepemimpinan desa terus berlanjut hingga akhirnya pada tahun 2013, Desa Pekutan dipimpin oleh Janjang Sudewa, SE sebagai kepala desa.
Warisan Sejarah
Sejarah Desa Pekutan menjadi bukti bahwa perjalanan sebuah desa tidak bisa dilepaskan dari dinamika politik nasional, mulai dari masa kerajaan, penjajahan Belanda, hingga terbentuknya sistem pemerintahan modern.
Kisah ini juga menunjukkan bagaimana masyarakat lokal tetap bertahan, beradaptasi, dan membangun identitas wilayahnya hingga kini.
Sejarah tersebut dihimpun dari berbagai sumber, di antaranya catatan keluarga FM Basrowi (1988), buku Babad Kebumen, serta keterangan para narasumber dari lingkungan Keraton Yogyakarta.
Sumber; website Desa Pekutan
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


















