SEJARAH

Menguak Sejarah Desa Kertodeso: Dari Hutan Belantara hingga Menjadi Desa yang Tentram

719
×

Menguak Sejarah Desa Kertodeso: Dari Hutan Belantara hingga Menjadi Desa yang Tentram

Sebarkan artikel ini

KEBUMEN, Kebumen24.com – Sejarah panjang berdirinya Desa Kertodeso, Kecamatan Mirit, Kabupaten Kebumen kini terdokumentasi dalam sebuah buku berjudul “Babad Kertodeso.” Buku ini menjadi upaya penting untuk melestarikan cerita masa lalu desa yang sebelumnya hanya hidup dalam ingatan para sesepuh dan masyarakat secara lisan.

Penulisan buku tersebut disusun melalui penelitian dengan metode triangulasi sumber dan metode, sehingga informasi yang disajikan dapat dipertanggungjawabkan secara historis. Penyusunan buku ini juga mendapat dukungan dari berbagai tokoh desa, di antaranya Kepala Desa Kertodeso, Fahrudin, serta sejumlah narasumber seperti Drs. Mahrur Adam Maulana, Riwi Dikdho, R. Heri Santoso Wibowo, Sahid, Rifangi, S.Pd.I, hingga Muchlisin.

Penulis menjelaskan bahwa sejarah desa penting untuk ditulis agar tidak hilang ditelan zaman. Selama ini, berbagai cerita mengenai asal-usul desa, tokoh pembuka wilayah, hingga perjalanan masyarakat hanya diwariskan secara lisan.

Asal Usul Nama Kertodeso

Secara harfiah, nama Kertodeso berasal dari dua kata dalam bahasa Jawa Kawi, yakni “Kerto” yang berarti tentram dan “Deso” yang berarti desa. Dengan demikian, Kertodeso dapat dimaknai sebagai desa yang tentram.

Wilayah Kebumen pada masa lampau dikenal masih berupa hutan lebat yang belum banyak dihuni. Salah satu versi sejarah menyebutkan bahwa nama Kebumen berasal dari tokoh ulama Pangeran Bumidirja atau Ki Bumi yang mendirikan padepokan di wilayah tersebut.

Seiring waktu, pembukaan hutan dilakukan secara gotong royong oleh masyarakat. Bahkan, menurut cerita para sesepuh desa, sebagian wilayah di daerah Mirit dibuka oleh mantan prajurit Pangeran Diponegoro setelah berakhirnya Perang Jawa.

Tokoh Pembuka Wilayah

Dalam proses pembukaan wilayah yang kini menjadi Desa Kertodeso, terdapat beberapa tokoh yang berperan besar, di antaranya Surononggo, Nuryopawiro, Rogodiwongso, Kertowidjojo, Surodipo, dan Martoyudo. Hingga kini, sejumlah makam tokoh tersebut masih berada di wilayah Desa Kertodeso dan menjadi bagian dari jejak sejarah desa.

Wilayah Kertodeso dulunya merupakan bagian dari beberapa desa yang berkembang dari pembukaan hutan, seperti Desa Dasar, Desa Rawa Pakel, Desa Kedung Sawit, dan Desa Kutan Wetan yang memiliki keterkaitan sejarah dengan Desa Pekutan.

Penggabungan Desa

Perjalanan sejarah membawa perubahan besar pada struktur pemerintahan desa. Pada masa pemerintahan kolonial Belanda, terjadi perubahan administrasi wilayah yang berdampak pada penggabungan beberapa desa.

Empat desa yakni Dasar, Rawa Pakel, Kedung Sawit, dan Kutan Wetan akhirnya dilebur menjadi satu desa yang kemudian diberi nama Kertodeso. Proses penamaan sempat melalui beberapa usulan seperti Jambean dan Kertoyudan, sebelum akhirnya diputuskan oleh Kepala Desa saat itu, Dolah Sirut, untuk menggunakan nama Kertodeso.

Masa Penjajahan dan Awal Kemerdekaan

Pada masa pendudukan Jepang tahun 1942, masyarakat desa mengalami tekanan berat. Pemerintah Jepang menuntut hasil panen, ternak, dan tenaga kerja untuk mendukung kepentingan perang.

Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu dan Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, Desa Kertodeso mulai membangun sistem pemerintahan sendiri. Pemilihan kepala desa pertama secara demokratis dimenangkan oleh Darso Mujiono.

Pada masa kepemimpinannya, desa menghadapi berbagai tantangan seperti gagal panen, kemiskinan, dan kelaparan. Salah satu langkah penting yang dilakukan adalah pembangunan bendungan sederhana untuk irigasi persawahan. Upaya ini berhasil meningkatkan hasil pertanian dan memperbaiki kondisi ekonomi masyarakat.

Desa Pertanian yang Produktif

Sejak dahulu, Kertodeso dikenal sebagai desa dengan potensi pertanian yang kuat. Komoditas unggulan yang pernah berjaya di antaranya jeruk, selain pisang, kelapa, dan padi.

Bahkan pada era 1970 hingga 1980, pemerintah pusat juga memberikan bantuan pangan seperti bulgur, beras, dan makanan kaleng untuk membantu masyarakat menghadapi masa sulit akibat gagal panen.

Daftar Kepala Desa Kertodeso

Dalam perjalanan pemerintahannya, Desa Kertodeso telah dipimpin oleh beberapa kepala desa, antara lain:

  1. Darso Mujiono – menjabat hingga 1989
  2. Drs. Mahrur Adam Maulana – 1989–1998
  3. Suseno – 1999–2007
  4. Suseno (periode kedua) – 2007–2013
  5. Fahrudin – 2013–2019 dan 2019–2025

Kini, Desa Kertodeso terus berkembang dengan tetap menjaga tradisi dan nilai budaya yang diwariskan para leluhur.

Buku “Babad Kertodeso” diharapkan menjadi sumber pengetahuan bagi generasi muda agar memahami sejarah desa serta menjaga warisan budaya yang telah ada sejak ratusan tahun lalu.

Sumber: Website Desa Kertodeso


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.