KEBUMEN, Kebumen24.com – Setiap desa memiliki cerita masa lalu yang diwariskan dari generasi ke generasi. Di Kecamatan Mirit, Kabupaten Kebumen, terdapat sebuah kisah legenda yang hingga kini masih dipercaya masyarakat setempat. Kisah tersebut berkaitan dengan asal-usul nama Desa Wirogaten yang konon berasal dari tokoh bernama Mbah Wirogati.
Cerita ini masih dituturkan oleh salah satu sesepuh desa, Basiran, yang juga merupakan juru kunci makam Mbah Wirogati. Menurutnya, peristiwa tragis yang menimpa Mbah Wirogati menjadi bagian penting dalam sejarah desa tersebut.
Berawal dari Kesalahpahaman
Dikisahkan, pada suatu hari Mbah Wirogati tengah membajak sawah bersama seorang pekerjanya bernama Sekar Panji Notokusumo, yang dikenal sebagai pangon atau pembajak sawah. Saat hendak bekerja, mereka menyadari bahwa alat bajak atau wluku tertinggal di rumah.
Mbah Wirogati kemudian meminta Sekar Panji Notokusumo untuk mengambilnya. Namun, karena tak kunjung kembali, Mbah Wirogati memutuskan menyusul ke rumah.
Sesampainya di rumah, ia terkejut melihat istrinya bersama Sekar Panji Notokusumo sedang menumbuk padi. Dalam keadaan emosi dan tanpa berpikir panjang, Mbah Wirogati menuduh keduanya telah melakukan perbuatan yang tidak pantas.
Padahal, menurut cerita yang berkembang di masyarakat, Sekar Panji Notokusumo hanya membantu pekerjaan sang istri. Saat itu kondisi sang istri hanya mengenakan jarik atau kemben karena merasa kepanasan setelah bekerja.
Sumpah yang Berujung Petaka
Merasa tidak bersalah, Sekar Panji Notokusumo tidak melawan. Ia justru menantang Mbah Wirogati untuk membuktikan kebenaran.
Ia berkata, jika benar dirinya melakukan zina maka darah yang keluar dari tubuhnya akan berwarna merah. Namun jika tidak bersalah, darah yang keluar akan berwarna putih.
Mbah Wirogati yang masih dikuasai emosi kemudian menusukkan keris ke tubuh Sekar Panji Notokusumo. Kejadian tak terduga pun terjadi. Darah yang keluar konon berwarna putih, menjadi pertanda bahwa tuduhan tersebut tidak benar.
Melihat kejadian itu, Mbah Wirogati langsung diliputi penyesalan mendalam. Rasa bersalah yang besar membuatnya putus asa hingga akhirnya mengakhiri hidupnya sendiri dengan keris yang sama.
Tradisi Suran yang Masih Dilestarikan
Peristiwa tersebut kemudian menjadi legenda yang melekat dalam sejarah Desa Wirogaten. Untuk mengenang para leluhur, masyarakat khususnya di Dusun Banjengan setiap tahun menggelar tradisi Suran atau Memetri Bumi pada bulan Suro.
Ritual adat tersebut dilaksanakan di sekitar makam Mbah Wirogati dengan berbagai rangkaian kegiatan, seperti penyembelihan kerbau serta pagelaran wayang kulit. Tradisi ini menjadi simbol penghormatan kepada leluhur sekaligus doa agar masyarakat desa selalu diberi keselamatan dan keberkahan.
Makam Mbah Wirogati sendiri dibangun pada tahun 1971 oleh seorang putra daerah yang sukses di perantauan, yakni Mayor Jenderal Ir. Moerwani.
Hingga kini, legenda tersebut masih hidup dalam ingatan warga dan menjadi bagian dari identitas sejarah Desa Wirogaten.
SUMBER: Website Desa Wirogaten.
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


















