SEJARAH

Legenda Desa Singoyudan: Awalnya Dua Kademangan hingga Menjadi Satu Desa

276
×

Legenda Desa Singoyudan: Awalnya Dua Kademangan hingga Menjadi Satu Desa

Sebarkan artikel ini

KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Singoyudan di Kecamatan Mirit menyimpan kisah panjang yang sarat legenda, perjuangan, dan dinamika kehidupan masyarakat sejak masa kolonial Belanda. Sejarah desa ini menjadi bagian penting dari perjalanan sosial masyarakat yang mayoritas berprofesi sebagai petani dan penderes nira kelapa untuk pembuatan gula merah.

Awal Mula Desa Singoyudan

Jauh sebelum Indonesia merdeka, wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Singoyudan sebenarnya terdiri dari dua wilayah pemerintahan kecil atau kademangan, yakni Kademangan Singoyudo dan Kademangan Wawar.

Kademangan Singoyudo dipimpin oleh Lurah Wiryo Prapto, sementara Kademangan Wawar dipimpin oleh Lurah Ahmad Dasih. Kehidupan masyarakat saat itu sangat sederhana, bergantung pada sektor pertanian dan produksi gula jawa dari nira kelapa.

Seiring waktu, pada tahun 1921, kedua wilayah tersebut digabungkan menjadi satu desa dengan nama Desa Singoyudan. Pemimpin pertama setelah penggabungan tersebut adalah Lurah Sosro Rejo, yang menjabat dari tahun 1921 hingga 1935.

Uniknya Pemilihan Kepala Desa Zaman Dulu

Pada masa itu, pemilihan kepala desa dilakukan dengan cara yang unik, dikenal dengan istilah “dodokan.”

Dalam sistem ini, para calon kepala desa duduk di kursi yang disediakan, sementara warga yang memilih harus berjongkok di belakang calon pilihannya. Calon dengan jumlah pendukung terbanyak otomatis terpilih menjadi kepala desa.

Namun sistem ini sering menimbulkan konflik karena pilihan masyarakat terlihat secara terbuka. Tak jarang, setelah pemilihan terjadi pertikaian antarwarga, saling ejek, bahkan aksi brutal seperti pembakaran rumah dan pencurian.

Beralih ke Sistem “Gitingan”

Setelah masa jabatan Lurah Sosro Rejo berakhir pada 1935 dan sempat digantikan oleh Parto Dimejo, masyarakat akhirnya sepakat mengubah sistem pemilihan.

Mereka menggunakan metode “gitingan”, yakni pemilih memasukkan lidi berwarna ke dalam wadah atau bumbung yang disediakan panitia. Warna pada lidi menjadi simbol calon kepala desa.

Dari pemilihan ini, Mangku Diharjo terpilih dan menjabat sangat lama, yakni dari 1937 hingga 1989.

Masa Pemilihan Modern

Setelah itu, sistem pemilihan mulai mengikuti aturan pemerintahan dengan masa jabatan tertentu dan metode pencoblosan.

Berikut beberapa kepala desa yang pernah memimpin Singoyudan:

  • Suyatno (1989–1997)
  • Sarjo (1997–2007)
  • Santoso (2007–2013)
  • Santoso (2013–2019)
  • Situr (2019–2025)

Peristiwa Penting dalam Sejarah Desa

Selain pergantian kepemimpinan, perjalanan Desa Singoyudan juga diwarnai berbagai peristiwa penting, baik yang membawa kemajuan maupun musibah.

Beberapa catatan sejarah desa antara lain:

Peristiwa Sulit

  • Tahun 1962, banyak warga terserang penyakit Honger Oedem hingga rumah sakit penuh pasien.
  • Tahun 1965, dampak peristiwa G30S membuat sejumlah warga terseret dalam kasus politik.
  • Tahun 1973, terjadi masa paceklik yang menyebabkan kekurangan pangan.
  • Tahun 1974, wabah cacar menyerang dan menyebabkan banyak anak meninggal dunia.
  • Tahun 1993, banjir bandang akibat meluapnya Sungai Pucang karena belum adanya tanggul.
  • Tahun 2018, serangan hama tikus menyebabkan gagal panen dan meresahkan petani.

Peristiwa Pembangunan dan Bantuan

  • Tahun 1970, pembangunan gedung SD Desa Singoyudan.
  • Tahun 1977, Balai Desa dibangun secara swadaya oleh masyarakat.
  • Tahun 1994–1995, pembangunan tanggul Sungai Pucang dan jembatan penghubung desa.
  • Tahun 1996, desa menerima bantuan program IDT (Inpres Desa Tertinggal).
  • Tahun 1999, masyarakat menerima bantuan beras raskin.
  • Tahun 2001, bantuan tiga ekor kerbau untuk pertanian.
  • Tahun 2007, bantuan lima ekor sapi bagi warga.
  • Tahun 2018, pembangunan pompa air listrik untuk irigasi yang mampu menghemat hingga 60 persen biaya pertanian.

Warisan Sejarah untuk Generasi Mendatang

Sejarah panjang Desa Singoyudan menunjukkan bagaimana masyarakat mampu bertahan menghadapi berbagai ujian zaman, mulai dari konflik sosial, bencana alam, hingga tantangan ekonomi.

Kini, desa tersebut terus berkembang dengan semangat gotong royong yang telah diwariskan sejak masa awal berdirinya.

Sumber; website desa


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.