KEBUMEN, Kebumen24.com – Di balik ketenangan pedesaan, Desa Tlogopragoto menyimpan kisah panjang yang sarat legenda, jejak kerajaan, hingga situs-situs bersejarah yang masih dihormati hingga kini. Cerita yang diwariskan turun-temurun oleh masyarakat menyebutkan, wilayah ini dulunya hanyalah hutan belantara yang dipenuhi rawa-rawa atau telaga yang masih alami dan dikenal angker.
Menurut penuturan masyarakat, awal mula terbentuknya Desa Tlogopragoto berkaitan dengan kedatangan rombongan pengembara dari Kerajaan Majapahit pada pertengahan abad ke-14. Rombongan tersebut dipimpin oleh Eyang Joko Kumbari bersama adiknya, Dewi Renges atau Dewi Reksolani.
Dewi Reksolani disebut sebagai salah satu keluarga istana dan dikenal sebagai selir Raja Majapahit, Prabu Brawijaya V. Mereka diduga meninggalkan istana akibat konflik keluarga yang terjadi pada masa itu. Perjalanan panjang membawa mereka hingga ke wilayah yang saat itu masih berupa hutan dan rawa-rawa yang belum dihuni manusia.
Di tempat tersebut, Eyang Joko Kumbari bersama Dewi Reksolani kemudian membuka hutan atau babad alas. Dalam upaya itu, mereka dibantu oleh Eyang Joyo Kusumo, yang disebut sebagai putra dari Sunan Gunung Jati dari Cirebon, beserta para pengikut setianya.
Mereka kemudian mendirikan sebuah padepokan di kawasan hutan yang kini dikenal sebagai situs makam kuno Lamsih. Tempat ini juga diyakini sebagai makam Waliyullah Syeh Wali Putih Joyo Kusumo. Hingga sekarang, lokasi tersebut masih sering diziarahi masyarakat, terutama pada malam Jumat. Tak hanya warga sekitar, peziarah dari luar daerah juga kerap datang ke tempat tersebut.
Selain menjadi tempat ziarah, kawasan itu juga menjadi lokasi tradisi budaya masyarakat seperti nyadran atau meteri bumi yang dilaksanakan setiap bulan Suro oleh Pemerintah Desa Tlogopragoto bersama masyarakat setempat.
Nama Tlogopragoto sendiri dipercaya berasal dari kondisi wilayah saat itu yang memiliki banyak telaga atau rawa. Dari situlah Eyang Joko Kumbari menamai daerah tersebut dengan sebutan Tlogopragoto.
Dalam kisah yang berkembang, Dewi Renges kemudian dikaruniai seorang putra bernama Raden Arya Damar atau Joko Dilah. Saat masih kecil, ia disebut sering dimandikan oleh ibunya di Telaga Seteleng, sebuah lokasi yang kini masih dikenal sebagai situs bersejarah di wilayah tersebut.
Raden Arya Damar kelak tumbuh menjadi tokoh penting dan dipercaya menjadi Adipati di Palembang. Dalam perjalanan hidupnya, ia menikah dengan Dewi Campa yang berasal dari Negeri Campa.
Dari kisah keluarga inilah muncul tokoh-tokoh penting lain dalam sejarah Jawa, termasuk Raden Kasan atau Raden Patah yang dikenal sebagai Sultan pertama Kesultanan Demak.
Memasuki masa Kerajaan Mataram Islam, wilayah Tlogo berkembang menjadi pusat pemerintahan kademangan yang dipimpin oleh Tumenggung Wonoyudho Inggil atau Wongsojoyo I. Kepemimpinan ini kemudian dilanjutkan oleh generasi berikutnya hingga pertengahan abad ke-17.
Jejak kejayaan masa itu masih dapat ditemukan melalui berbagai situs bersejarah, seperti pagar bata kuno (Pager Boto) yang diyakini sebagai bekas pusat pemerintahan sekaligus kediaman para pemimpin pada masa itu. Selain itu, terdapat pula sejumlah makam kuno tokoh penting yang tersebar di wilayah Tlogopragoto, Tlogodepok, hingga Mirit.
Berbagai peninggalan tersebut kini menjadi bukti sejarah sekaligus pengingat perjalanan panjang terbentuknya Desa Tlogopragoto yang sarat nilai budaya, sejarah, dan tradisi masyarakat.
Sumber: Pemerintah Desa Tlogopragoto
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


















