SEJARAH

Asal Usul Desa Sarwogadung! Kisah Nyai Sekar Gadung dan Hutan Gadung yang Penuh Misteri

368
×

Asal Usul Desa Sarwogadung! Kisah Nyai Sekar Gadung dan Hutan Gadung yang Penuh Misteri

Sebarkan artikel ini

KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Sarwogadung Kecamatan Mirit Kebumen, memiliki kisah sejarah dan legenda yang masih diceritakan turun-temurun oleh masyarakat hingga kini. Dahulu, wilayah ini konon masih berupa hutan lebat yang dipenuhi berbagai tumbuhan liar. Di antara banyaknya tanaman yang tumbuh, pohon gadung disebut sebagai tanaman yang paling mendominasi kawasan tersebut.

Menurut cerita rakyat setempat, pada suatu masa datang seorang prajurit perempuan dari wilayah Kesultanan Mataram. Kedatangannya diperkirakan terjadi pada masa penjajahan Belanda. Sosok perempuan itu kemudian dikenal dengan gelar Nyai Dewi Ayu Sekar Gadung.

Dalam kisah yang berkembang di masyarakat, Nyai Dewi Ayu Sekar Gadung datang bersama para pengikut yang memiliki kemampuan luar biasa. Mereka disebut mampu berganti rupa, yang dalam istilah Jawa dikenal sebagai mencala putra atau mencala putri. Karena itulah, kawasan tempat mereka menetap dahulu dikenal dengan nama Gadungan.

Seiring berjalannya waktu, wilayah tersebut semakin ramai oleh keturunan dan pengikut mereka. Nama Gadungan kemudian berubah menjadi Sarwogadung, yang hingga kini menjadi nama desa tersebut.

Awal Mula Delapan Dusun

Dalam babad atau cerita pendirian desa, Sarwogadung disebut terbagi menjadi delapan pedukuhan yang masing-masing memiliki tokoh pendiri.

  1. Dusun Nolosaran didirikan oleh Mbah Cokrowono. Konon saat membuka wilayah tersebut digunakan panah (cokro) untuk merobohkan tumbuhan. Pada masa itu wilayah ini dipimpin Demang Nolosoro.
  2. Dusun Pengampon didirikan oleh Mbah Paku Jati yang membuka hutan dengan menggunakan paku untuk menebang pepohonan.
  3. Dusun Pejaten didirikan oleh Noyodimejo.
  4. Dusun Jurutengah dibuka langsung oleh Nyai Dewi Ayu Sekar Gadung.
  5. Dusun Pelutan didirikan oleh Nyai Surodrono yang menggunakan pencok atau cangkul kecil saat membuka lahan.
  6. Dusun Karangbokeng didirikan oleh Kyai Walbasiyah.
  7. Dusun Dukuh didirikan oleh Wongso Yudho.
  8. Dusun Keburuhan didirikan oleh Mbah Adam Sari.

Tradisi dan Tempat yang Dikeramatkan

Hingga kini masyarakat masih menjaga tradisi dengan mengadakan selamatan setiap bulan Suro di beberapa tempat yang dianggap memiliki nilai sejarah dan spiritual. Di antaranya adalah:

  • Petilasan Nyai Dewi Ayu Sekar Gadung di Dusun Jurutengah.
  • Petilasan Mbah Sabdo Guno di Dusun Pejaten.
  • Petilasan Nyai Surodrono di Dusun Pelutan.

Tradisi ini menjadi bagian dari upaya masyarakat dalam menghormati leluhur serta menjaga warisan budaya desa.

Kisah Unik Para Tokoh Desa

Cerita menarik juga menyertai beberapa tokoh pendiri desa. Salah satunya kisah tentang Demang Nolosoro. Dalam cerita rakyat disebutkan bahwa saat terjadi pertempuran melawan Belanda pada masa Perang Diponegoro, ia gugur dengan kepala terputus. Namun konon kepalanya disebut kembali hingga ke rumahnya di Sarwogadung. Kebenaran cerita tersebut tentu sulit dipastikan dan tetap menjadi bagian dari legenda yang hidup di masyarakat.

Sementara itu, Nyai Dewi Ayu Sekar Gadung digambarkan sering mengenakan kain jarik lurik merah, baju hijau, serta selendang modang yang menyerupai warna pohon gadung. Hingga kini beredar kepercayaan bahwa mengenakan pakaian serupa dapat membawa kesialan, meskipun hal tersebut hanya sebatas cerita turun-temurun.

Makna Nama Sarwogadung

Nama Sarwogadung sendiri memiliki arti filosofis.

  • Sarwo berarti serba atau beragam.
  • Gadung berarti hijau.

Secara makna, Sarwogadung dapat diartikan sebagai tempat yang penuh dengan kehidupan hijau dan keberagaman.

Legenda ini menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat Desa Sarwogadung sekaligus warisan cerita yang terus dijaga dari generasi ke generasi.

Sumber website desa Sarwogadung


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.