KEBUMEN, Kebumen24.com – Di balik perbukitan hijau di wilayah Kecamatan Karanggayam, Kabupaten Kebumen, tersimpan kisah panjang tentang lahirnya Desa Kajoran, sebuah desa yang tidak hanya kaya akan keindahan alam, tetapi juga memiliki sejarah unik yang masih dijaga oleh warganya hingga sekarang.
Secara geografis, Desa Kajoran berada di sebuah lembah yang dikelilingi hutan dan perbukitan. Sebagian besar masyarakatnya berprofesi sebagai petani yang masih mempertahankan pola bertani tradisional. Namun yang membuat desa ini istimewa bukan hanya bentang alamnya, melainkan ikatan sejarah dan kekeluargaan yang masih sangat kuat di tengah masyarakat.
Di tengah arus modernisasi yang semakin cepat, warga Kajoran tetap memegang teguh adat, tradisi, serta ajaran para leluhur. Hal ini tidak lepas dari kuatnya hubungan kekerabatan warga yang sebagian besar masih berada dalam satu garis keturunan besar, yakni Trah Mbah Agung Kajoran.
Ikatan keluarga tersebut menjadi modal sosial penting dalam kehidupan masyarakat. Nilai gotong royong, persaudaraan, serta penghormatan terhadap tradisi masih terasa kuat dalam kehidupan sehari-hari warga.
Awal Mula Desa Kajoran
Sejarah Desa Kajoran bermula sekitar tahun 1680-an, ketika seorang tokoh yang dikenal masyarakat sebagai Eyang Lugu atau Mbah Agung datang ke wilayah yang saat itu masih berupa hutan lebat bernama Hutan Jurangjero.
Mbah Agung datang melalui wilayah Gunung Buthak, yang menjadi batas selatan kawasan hutan tersebut. Bersama anak-anak dan para pengikutnya, ia mulai membuka hutan atau babad alas untuk dijadikan pemukiman.
Tempat pertama yang dibuka berada di wilayah yang kini dikenal sebagai Dukuh Kemojing. Karena para penghuni awal berasal dari Kajoran—wilayah asal Mbah Agung di kawasan perdikan Kerajaan Mataram—maka daerah tersebut kemudian dinamakan Kajoran.
Nama itu juga menjadi simbol kebanggaan terhadap asal-usul dan leluhur mereka.
Petilasan dan Masjid Peninggalan Leluhur
Jejak awal pemukiman Kajoran masih dapat ditemukan hingga sekarang. Petilasan tempat pertama Mbah Agung tinggal berada di sebelah timur Masjid Kajoran di Dukuh Kemojing.
Masjid tersebut merupakan salah satu peninggalan penting Mbah Agung. Selain sebagai tempat ibadah, masjid itu dahulu juga digunakan untuk mengajarkan ilmu agama, kebatinan, hingga kanuragan kepada anak-anak serta para pengikutnya.
Di tempat asalnya, Mbah Agung dikenal sebagai seorang sesepuh kejawen yang memiliki banyak murid. Tidak heran jika hingga kini sebagian masyarakat Kajoran dan sekitarnya masih memegang ajaran Kejawen serta menjaga tradisi leluhur.
Perluasan Wilayah Pemukiman
Seiring berkembangnya pemukiman, Mbah Agung kemudian memilih tinggal menyepi di bagian utara kawasan hutan Jurangjero. Di sana ia mendirikan sebuah pesanggrahan hingga akhir hayatnya.
Beliau wafat sekitar tahun 1700-an dan dimakamkan di Pesarean Ageng Kajoran yang berada di Desa Karangtengah.
Setelah itu, anak cucunya melanjutkan perjuangan membuka wilayah baru. Beberapa di antaranya adalah:
- Mbah Derwak bersama putranya Mbah Kedungpane membuka wilayah di utara Kajoran yang kemudian dikenal sebagai Kewao, bahkan hingga Kaligondang.
- Mbah Padureksa bersama putranya Mbah Kertabrani membuka wilayah ke arah barat yang kini menjadi Kaligowok dan Sudagaran.
- Mbah Cakradipa memperluas pemukiman hingga wilayah Karangtengah dan Pagerkitiran.
Melalui proses panjang tersebut, hampir seluruh kawasan Hutan Jurangjero akhirnya berubah menjadi permukiman yang kemudian berkembang menjadi beberapa desa.
Terpisahnya Kajoran dan Karangtengah
Dalam perjalanan sejarahnya, wilayah Kajoran kemudian terbagi menjadi dua daerah administratif, yakni Kajoran dan Karangtengah.
Peristiwa ini terjadi sekitar akhir tahun 1700-an, pada masa generasi ketiga keturunan Mbah Agung. Saat itu:
- Mbah Kertabrani memimpin wilayah Kajoran bagian selatan
- Mbah Cakradipa menjadi demang di wilayah utara yang kini dikenal sebagai Karangtengah
Meski kini telah menjadi dua desa yang berbeda secara administrasi, hubungan sosial masyarakat keduanya tetap sangat erat. Rasa persaudaraan yang berasal dari satu leluhur masih terasa kuat hingga sekarang.
Daftar Pemimpin Desa Kajoran
Sejak berdirinya hingga sekarang, Desa Kajoran telah dipimpin oleh sejumlah tokoh, di antaranya:
Masa Awal Berdiri
- Mbah Agung Kajoran
- Mbah Derwak Kajoran
- Padureksa
- Kertabrani
- Secadikara
- Secataruna
- Suradikara (…–1930)
- Cokrosudarmo (1930–1940)
- Sosrosuparto (1940–1950)
Pasca Kemerdekaan
10. Surodiwiryo (1950–1953)
11. Nititaruno (1953–1972)
12. Tarijan (1972–1989)
13. Sutarno (1989–1999)
14. Sudiyo (1999–2007)
15. Suroso (2007–2013)
16. Sudiyo (2013–2019)
17. Ariyanto (2019–sekarang)
Hingga kini, Desa Kajoran tetap dikenal sebagai desa dengan ikatan sejarah yang kuat. Kisah babad alas yang dilakukan para leluhur menjadi pengingat bahwa desa ini lahir dari perjuangan panjang, kerja keras, dan semangat kebersamaan.
Tradisi itu pula yang terus diwariskan kepada generasi muda agar sejarah Desa Kajoran tidak hilang ditelan zaman.
Sumber : https://kajoran.kec-karanggayam.kebumenkab.go.id/index.php/web/artikel/115/73
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


















