KEBUMEN, Kebumen24.com – Di wilayah utara Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, terdapat sebuah desa yang menyimpan kisah panjang perjalanan sejarah, perjuangan, hingga legenda yang masih hidup di tengah masyarakat. Desa itu adalah Gemeksekti, sebuah wilayah yang lahir dari penggabungan dua desa lama, yakni Watubarut dan Tanuraksan.
Tak sekadar menjadi wilayah administratif, Gemeksekti memiliki cerita masa lalu yang menarik. Mulai dari jejak laskar perang, kisah para perintis desa, hingga legenda burung sakti yang menjadi asal-usul namanya.
Penggabungan Dua Desa
Sejarah Desa Gemeksekti bermula pada awal tahun 1900-an. Saat itu, Bupati Kebumen yang dikenal dengan nama Harumbinang memutuskan untuk menggabungkan Desa Watubarut dan Desa Tanuraksan.
Keputusan tersebut diambil dengan berbagai pertimbangan, terutama kondisi geografis wilayah serta kebutuhan tata kelola pemerintahan desa yang lebih efektif. Kedua desa yang sebelumnya berdiri sendiri akhirnya disatukan dalam satu pemerintahan baru.
Melalui musyawarah para tokoh masyarakat dari kedua desa, disepakati sebuah nama baru yang kini dikenal sebagai Desa Gemeksekti.
Legenda Burung Gemek Sakti
Nama Gemeksekti tidak dipilih secara sembarangan. Nama ini berasal dari kisah legenda yang berkembang di masyarakat setempat.
Konon, di kawasan Bukit Pencu pernah terdapat seekor burung puyuh atau gemek yang dipercaya memiliki kesaktian. Burung tersebut merupakan peliharaan Pangeran Kajoran, mertua dari Pangeran Trunojoyo.
Dalam cerita turun-temurun, burung gemek itu diyakini mampu memberikan pertanda jika desa akan mengalami bencana atau wabah penyakit. Karena kisah itulah, masyarakat sepakat menggunakan nama Gemeksekti, yang hingga kini menjadi identitas desa tersebut.
Tokoh yang dipercaya menjadi kepala desa pertama setelah penggabungan adalah Tjokro Diwiryo, cucu dari Joyo Suwongso, salah satu tokoh penting dalam sejarah desa. Ia memimpin hingga masa akhir pendudukan Jepang di Indonesia.
Jejak Laskar Diponegoro
Jika ditelusuri lebih jauh, sejarah wilayah Gemeksekti juga berkaitan dengan peristiwa besar dalam sejarah Jawa, yakni berakhirnya Perang Diponegoro sekitar tahun 1835.
Saat perang usai, sebagian laskar Pangeran Diponegoro tercerai-berai ke berbagai wilayah di Jawa Tengah. Salah satunya adalah kelompok yang dipimpin oleh Joyo Suwongso, keturunan Kolopaking.
Ia memilih menetap di wilayah utara Kebumen yang saat itu masih berupa hutan dan perbukitan di sekitar sungai besar. Lokasi tersebut dianggap strategis sebagai tempat perlindungan sekaligus untuk memulai kehidupan baru.
Berkat kedekatannya dengan Bupati Harumbinang, Joyo Suwongso mendapatkan izin untuk membuka pemukiman baru di kawasan tersebut.
Dalam prosesnya, ia bertemu dengan dua tokoh lain yang telah lebih dahulu tinggal di wilayah itu, yakni Mbah Suryani di daerah Tangkil dan Mbah Sawi di kawasan Bukit Elo. Ketiganya kemudian dikenal sebagai para perintis awal wilayah yang kini menjadi Desa Gemeksekti.
Awal Berdirinya Permukiman
Perkampungan pertama dimulai secara sederhana. Rumah milik Joyo Suwongso menjadi bangunan awal di wilayah tersebut. Tak lama kemudian didirikan langgar atau mushala yang diasuh oleh Mbah Suryani.
Langgar itu menjadi pusat kegiatan masyarakat, baik dalam kegiatan keagamaan maupun sosial.
Bersama para pengikutnya yang datang dari berbagai wilayah pesisir selatan seperti Ambal, Mirit, Butuh, hingga Kutoarjo Selatan, mereka membuka hutan, membangun rumah, serta mengolah lahan pertanian.
Seiring waktu, kawasan yang awalnya berupa hutan perlahan berkembang menjadi pemukiman yang tertata.
Asal-usul Desa Watubarut
Dalam perkembangannya, wilayah tersebut kemudian resmi menjadi desa dengan nama Watubarut, dengan Joyo Suwongso sebagai lurah pertama.
Nama Watubarut sendiri diambil dari sebuah situs batu kuno yang berada di timur Bukit Pencu. Di lokasi tersebut terdapat batu andesit yang diduga merupakan bagian dari bangunan peribadatan masa lampau.
Menariknya, di atas batu-batu tersebut pernah tumbuh pohon beringin putih yang akarnya melilit batu. Dari situlah muncul istilah watu yang berarti batu dan barut yang berarti terbelit.
Sisa-sisa batu tersebut masih dapat ditemukan hingga kini, meskipun pohon beringin yang dulu tumbuh di sana sudah tidak ada.
Kisah Desa Tanuraksan
Sementara itu, sejarah Desa Tanuraksan tidak banyak tercatat secara tertulis. Sebagian besar cerita diwariskan secara lisan oleh para sesepuh desa.
Wilayah Tanuraksan sejak dahulu berada di tepi Sungai Lukulo. Sungai tersebut memiliki peran penting bagi kehidupan masyarakat, baik sebagai sumber air maupun jalur transportasi pada masa lalu.
Letaknya yang strategis membuat kawasan ini berkembang sebagai tempat aktivitas masyarakat sejak dahulu.
Perjalanan Desa dari Masa ke Masa
Seiring berjalannya waktu, Desa Gemeksekti mengalami berbagai fase sejarah. Mulai dari masa penjajahan Belanda, pendudukan Jepang pada tahun 1942, hingga masa kemerdekaan Indonesia pada 1945.
Beberapa tonggak pembangunan juga tercatat dalam perjalanan desa, di antaranya pembangunan balai desa pada tahun 1976 serta berbagai pemilihan kepala desa yang menandai dinamika kepemimpinan di wilayah tersebut.
Dalam catatan pemerintahan desa, sejumlah tokoh yang pernah memimpin Gemeksekti antara lain Nurkholik, Ahmad Mudjamil, Budiyati, Imron, Ngumuludin, hingga Suramin, SE yang terpilih pada tahun 2019.
Kini, Desa Gemeksekti terus berkembang seiring perubahan zaman. Meski demikian, masyarakat tetap berupaya menjaga nilai-nilai sejarah yang menjadi akar terbentuknya desa tersebut.
Jejak perjuangan, kisah para perintis, serta legenda yang hidup di tengah masyarakat menjadi bagian penting dari identitas Gemeksekti hingga hari in.
Sumber: Website desa Gemeksekti
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


















