KEBUMEN, Kebumen24.com – Di tengah perbukitan karst wilayah selatan Kabupaten Kebumen, terdapat sebuah desa yang menyimpan kisah tradisi turun-temurun yang hingga kini masih dipercaya sebagian masyarakatnya. Desa tersebut adalah Jladri, yang berada di Kecamatan Buayan.
Dilansir dari detik.com menyebutkan, di desa ini beredar sebuah keyakinan unik: sebagian warga dipercaya tidak boleh menikah dengan orang dari desa tertentu di luar wilayahnya. Jika larangan itu dilanggar, konon akan datang musibah dalam rumah tangga.
Desa Jladri sendiri berada di kawasan perbukitan batu karang di pesisir selatan Kebumen. Udara yang sejuk dan suasana pedesaan yang tenang membuat desa dengan jumlah penduduk sekitar 4.000 jiwa ini terlihat asri dan alami.
Kepala Desa Jladri, Marno, menjelaskan bahwa kepercayaan tersebut masih hidup di tengah masyarakat hingga sekarang, meskipun tidak berlaku bagi seluruh warga desa.
“Sampai sekarang masyarakat masih memegang teguh kepercayaan itu,” ujar Marno saat ditemui di kediamannya.
Menurutnya, mitos tersebut terutama dipercaya oleh warga Dusun Jladri Tengah dan Dusun Londeng. Ada pasangan-pasangan dusun tertentu yang diyakini tidak boleh saling menikah.
Misalnya, warga Dusun Jladri Tengah dipercaya tidak boleh menikah dengan warga Dusun Jarakan yang berada di Desa Adiwarno. Sementara warga Dusun Londeng diyakini tidak boleh menikah dengan warga Dusun Karangwuni di Desa Wanadadi.
Cerita yang berkembang di masyarakat menyebutkan bahwa dahulu Dusun Londeng dan Dusun Karangwuni pernah berada dalam satu wilayah yang sama. Namun kemudian wilayah tersebut terpisah dan dibatasi oleh hutan.
Sejak saat itu, warga setempat mengamati adanya kejadian-kejadian yang dianggap sebagai pertanda. Konon, jika ada warga dari kedua dusun tersebut menikah, maka akan terjadi musibah, seperti perceraian atau kematian salah satu pasangan.
“Ada yang ‘niteni’ atau mengamati sejak dulu. Katanya kalau orang Londeng menikah dengan Karangwuni, pasti ada musibah yang terjadi,” jelas Marno.
Meski begitu, asal-usul pasti dari kepercayaan tersebut tidak diketahui secara jelas. Cerita yang beredar hanya berdasarkan pengalaman dan pengamatan masyarakat dari generasi ke generasi.
Tradisi ini pun sudah ada sejak zaman nenek moyang dan masih diyakini hingga sekarang. Karena kuatnya kepercayaan tersebut, hampir tidak ada warga yang berani melanggarnya.
Salah seorang warga setempat, Kimin Nurofiq (59), mengaku masyarakat lebih memilih menghindari risiko daripada melawan pantangan yang sudah lama dipercaya.
“Kalau sudah terlanjur dekat biasanya memilih mengalah. Daripada melanggar, lebih baik mencari pasangan dari tempat lain,” ujarnya.
Menurutnya, cerita yang beredar menyebutkan bahwa pasangan yang melanggar pantangan tersebut kerap mengalami masalah dalam rumah tangga.
Terlepas dari benar atau tidaknya mitos tersebut, kisah ini menjadi bagian dari warna budaya lokal yang masih hidup di tengah masyarakat Kebumen hingga hari ini.(K24/*).
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


















